ketika semua pergi, bergegas meninggalkan,
segudang cemooh dan sumpah serapah terucap, bercerita ketika engkau tak ada, berpura-pura sahabat ketika engkau berada, dan tanpa sapa saat engkau tak lagi berada,
ketika bisikan melemah, tertutup kerasnya telinga-telinga yang seolah tuli, saat kata tak satupun lagi bermakna, saat kita tak lagi menjadi kamu dan aku, berdiri sendiri dengan kamumu dan akuku, dan mereka yang disebut sahabat satu persatu menghilang, laksana pusara sepi tak bertuan,
dalam sunyi abadi tanpa siapa dan apa, tanpa hembusan, tanpa desiran, tanpa suara, tanpa ada tanpa lagi, menghilang perlahan, sisakan sedikit saja asa yang terlunta dan tercabik di lorong buas sebelum menghening abadi,
asa itu
mengarahkan diri pada dia yang dulu
mencipta, bertaut meski lemah pada pencipta yang tak pernah lupa ciptaannya,
dia bersama dalam ketiadaan tanpa mereka
