Sabtu, 12 Desember 2020

PERGILAH

 Pergilah

langit sudah tercabik

berdarah-darah pada awannya

lalu kita kehilangan madah  semesta

syairnya sudah tidak teratur

sedang malam semakin terobek

pada irama penggali kubur

di tanah merah yang menangis

DEBUR RIAK

 

Ada kisah pantai pada debur ombak
Saban waktu membuat nyanyian
Hingga camar menari rendah
Heningnya adalah doa alam
Membentuk sujud di pasir - pasir
Di dahan bakau angin seolah bermazmur
Hari terik nyanyian ombak
Tetap saja bermadah
Hingga engkau hening pada riak
Membentuk irama begitu selamanya
Sebagaimana rindu
Adalah balada doa

DAUN SABDA

 Melambung daun-daun sabda

Bertunas pada nafas pagi
Terhirup pada senyap
Diiring nada- nada mazmur
Terucap lirih di bait doa
Menyujud pada kidung sembah
Ingin saja kumengajak
Menyujud bersama
di depan altar-Nya
Kita duduk bersama
Menghayut hening
Bersatu di kidung doa

Puisi Usang


masih belum kutulis
puisi yang telah disusun
di bangku tua yang sudah berlumut
huruf-hurufnya sudah usang
lalu di bawah sinar malam
bulan hilang entah kemana
ke halaman rumahmu barangkali
sudah malam
ingin aku bangunkan tidurmu
mencari bulan yang hilang
dan puisi kutulis lagi
sebelum esok bukan milikku
Engkau akan membacanya
di bawah rembulan
yang separuhnya dibawa pergi
ke semesta berikutnya

MENGHAMPAR HARAP

 harap yang terhampar

dengan pagi pada fajar
laksana kembang bermekar
yang barangkali membuat kita bersabar
tetaplah menggenggam kabar
agar hari tak pernah memudar
meski waktu selalu tak sadar
menghantar kita semakin berkibar
sambut hari dengan syukur
sebab cinta-Nya tak pernah terukur
dari dahulu kini dan nanti tak pernah kabur

Jelang Malam

 

pada senja yang dititip
sebelum malam dijelang
berkas kisah hari tergeletak
di sudut warna sore tanpa awan
ingin saja memungut serpihan
yang barangkali terbuang dari catatan
untuk sekedar melukis waktu
sebelum hari dirampas malam
walau matahari akan kembali esok pagi
dalam bening senja tanpa awan
pagar rumah akan ditutup sebentar
agar beranda kita berujar
tentang waktu yang tak kembali
pada ilahi kita bersujud memuja
di sisa senja yang akan pergi

AKAL KITA

 Ada banyak prasangka

Seringkali menjerat fakta
Lalu menafikan logika
Hanya mementingkan rasa
Kalau demikian kita dipenjara
Tanpa arah kita membawa
Fakta memang selalu ada
Meski merasa tak berdaya
Dan akal sehat turut serta
Yang disembunyikan dibalik nyata

JANJI

 pernah ada dalam sejarah

di panji negara yang sama
kita mengungkapkan isi dada
tentang persatuan persada
kita ungkap belarasa
tentang Indonesia raya
bersama seluruh pemuda
dikitari garis katulistiwa
janji itu menjaga Indonesia
Dalam tumpah darah yang sama
bersatu mewujudkan adab bangsa
lalu kita menjunjung negara dengan bahasa
mari bersama para pemuda
kita satukan asa dan rasa
untuk Indonesia yang lebih perkasa
agar bangsa dan negara jaya selamanya

HENING LAGI

 kata-kata kami tertunduk pada hening

di antara ayat-ayat mazmur yang dieja
pada altar yang hampir sepi
dan bangku-bangku yang jarang ditempati
kadang berdebu karena lama tertinggal
pada kisah kami yang menghening cipta
hadirmu adalah hati
ke hati kami mencarimu
yang kadang kami lupa dimana jalan masuknya
bantu kami menuju hati

PERCAYA SAJA

 setiap senja

waktu adalah balada antara
surya dan mungkin purnama
yang kadang tak dihirau
oleh peluhnya hari
namun, satu yang pasti
esok akan ada untuk mereka yang percaya

tiada

  ketika semua pergi, bergegas meninggalkan,  segudang cemooh dan sumpah serapah terucap, bercerita ketika engkau tak ada, berpura-pura saha...