Pergilah
langit sudah tercabik
berdarah-darah pada awannya
lalu kita kehilangan madah semesta
syairnya sudah tidak teratur
sedang malam semakin terobek
pada irama penggali kubur
di tanah merah yang menangis
keindahan kata adalah cinta yang tak terungkap. rangkaian kehalusan budi, kepekaan rasa dalam nada lembut menjadi kata bersutera.cinta adalah terjemahan kata-kata menjadi perbuatan mengasihi,menyayangi dan meniadakan kebencian. mari merajut kata menjadi benang cinta agar boleh merenda cerita untuk esok yang pasti. "Cinta tak memberikan apapun, kecuali keseluruhan dirinya, utuh penuh, dia pun tak mengambil apa – apa, kecuali dari dirinya sendiri" (Khalil Gibran)
Pergilah
langit sudah tercabik
berdarah-darah pada awannya
lalu kita kehilangan madah semesta
syairnya sudah tidak teratur
sedang malam semakin terobek
pada irama penggali kubur
di tanah merah yang menangis
Melambung daun-daun sabda
harap yang terhampar
Ada banyak prasangka
pernah ada dalam sejarah
kata-kata kami tertunduk pada hening
setiap senja
DEBUR RIAK
Melambung daun-daun sabda
Bertunas pada nafas pagi
Berdiri di sini di atas tanah fana
Saat Langkah
penggali kubur korban korona menggila
Dengan tanah
merah membekas di telapak -telapak mereka
Aku lupa saat
sudah senja
Aroma kamboja
menyengat hingga menghujan kuburan korona
Tanpa
pelayat, tanpa ada yang menghantar,
mayat itu sendirian
Di sisa waktu
yang hanya sebentar barangkali
Dalam bayang-bayang
kematian tengiang
Aku terjaga dan
mulai berdoa, peluk aku bunda biar virus
ini pergi
Di kaki salib, terentang di empat penjuru semesta
Dua tangan
berlumur darah
Pedih dan perih jatuhnya anak-anak manusia ke
pangku bumi
Tatap sendu
seolah tak mampu pandang
Saat tangis dunia kehabisan air mata
Semua bersahut
lemah tak berdaya, korona sudah menjadi golgota
Satu persatu
pergi tanpa pamit lalu luka-luka tertinggal di sini
Menembus juga
ke jantung bunda
Luka kami bawa
menjadi duka bunda
Secercah sinar
Di timur jauh
Adalah cahaya
Merambat di jendela kmarmu
Lewat celah jendela
Mengabarkanmu
Marilah kasih bergegas pergi
Bersama sinar pagi
Menapak dalam sepi
Dalam cinta ilahi
Harap yang terhampar
kaubawa lagi duri-duri itu
Saat malam terjelang
Merona merah di barat
Jatuh tepat di pelukmu
Mungkin saja sore ini tak beda
Namun hadirmu memberi satu warna
Cinta tertuang pada susurnya
Tak pernah terlewat
Kita menapak bersama
Di beranda ini
Tawa dan rindu kita menyatu
Selamanya
Pagi ini puisiku jatuh di antara pohon2
Kata-katanya tertimpa ranting berduri
Dan melukai daun- daun hijau
Seolah pagi merestui
Daun- daun terluka
Namun, engkau mentari
Menyembuhkan pagi
Dan menghangat awan2 beku
Mungkin puisiku tak berguna
Saat engkau tak lagi menyikap
Lalu tanpa arti membuangnya
Ingin sekali aku berkata
Inilah aku yg mencinta
Tak perlu ada luka
Daun- daun tak lagi jatuh
Sebab kita bersama beranjak
Menyusuri waktu bersama
Dalam harap membawa cahya
Apapun kita hadapi
Penuh cinta
malam adalah kumpulan kenang
tentang kisah tercerai berai dari pagi
terik siang melangkah sore
lalu kita lupa senja itu di samping pagar
malam adalah cerita tentang daun-daun
yang terhempas dari ranting
lalu angin membawanya
dekat pagar rumahmu
yang menua seumur malam
di bawah terang rembulan yang tampak separuh
pergilah ke pagarmu walau sejenak saja
ada daun rindu terbang dari rembulan
tuk' merona di mimpi malammu
hingga engkau lupa kisah nestapa
dan tidurmu adalah sebuah pelepasan
yang membuat tersenyum pada bintang kejora
daun-daun kasih adalah ramuan
engkau balut kala hati terluka
malam itu engkau pernah berkisah
kutunggu hingga fajar menjemput
daun rindu rembulan bersatu membentuk fajar harapan
Engkau pernah melihat mega
Bergemuruh terbang ke cakrawala
Gagah bagai perkasa
Pada langkahmu berderap
Duri dan kerikil kerap mengerat
Hingga engkau berhenti
Tuk sekedar menulis kisah
Badaimu adalah cerita
tak pernah engkau sendiri
Iman kepadaNya adalah doa
Engkau berdiri gagah
Pada kebenaranmu engkau perkasa
Tuhan menjagamu tiap langkah
Dan doa kita merekah
Pada kelopak harap berbunga
Engkau setegar kembang tak layu
Hinggai badai itupun berlalu
Cerita semesta itu indah
Selalu ada dalam mentari
Di awal hari
Perjalanan mesti terus menapak
Lewati mentari-mentari
Hingga cerita dan cinta itu satu
Di titik ini waktu terus mengitari
Susur mentari yang kadang tak ramah
Meski terasa lelah berjuang
Raga kadang tak mampu mengungkap
Kala semua enggan terucap
Di kaki Salib-Nya beban kita terangkat
Sebening cerita langit
Yang meminjam awan-awam
Angin gunung turun ke lembah
Pada lembah awan bercerita
Tentang kelokan sungai
Membentuk tapak-tapak hati
Bergemuruh riak-riaknya
Membentuk percik harap
Tuk’ melewati waktu dengan tenang
Aku harus berkata apa
Ketika rasaku selalu sama
Untuk sebuah nama
Kini harus aku jaga
Meski jarak sedikit berbeda
Namun rindu semakin menggila
Tidakkah engkau merasa
Saat cinta dan rindu di dada
Mengajakku untuk berkata
Aku mengasihimu selamanya
Seperti kemarin
Rumput d halaman kita
Menggeliat manja
Titik-titik air pagi
Mengalir begitu saja
Dari malam ke pagi
Embun cintamu
Mengalir laksana pagi
Selalu ada saban waktu
Di atas persada ini
Aku lukis namamu
Pada kanvas abadi
Pada tenangnya telaga
Kubenamkan cerita
Dengan riak-riak rindu
Di daun- daun pagi
Engkaulah mentari
Menghangat saat jiwaku dingin
Dan harapku lelah
malam telah turun
Pagi ini sama
Puisiku tak berubah
Untukmu yang tercinta
Pagi ini tak beda
Kata-kataku tak ubah
Sebagaimana cintaku
Pagi ini tetap sama
Dengan pagi2 berikut
Rindu tak pernah istirahat
Sebentuk nada
Engkau adalah lagu
Kasihmu notasinya
Sebentuk lagu
Engkau adalah simponi
Cintamu dawainya
Sebentuk kita
Engkau adalah mutiara
Kujaga hingga abadi
Bila boleh kukata
Engkau anggun
Parasmu bening
Seperti embun pagi ini
Di halaman rumah kita
Buka jendelamu
Biarkan pagi merayu
Dengan semilir rindu
Tengoklah rumput di halaman
Ada asa terbentang pada embun
Agar matahari tak menyakitimu
Ceritakan pada rumput liar
Tentang jarak terbentang
Pada rindu yang membara
Kepadamu pagi menjelma
Pada titik- titik embun
Awan kepada daun-daun
Kepadamu pagi menyapa
Pada kisah yang terbentuk
Bintang fajar pada mentari
Kepadamu aku memadu janji
Antara puisi, awang dan mendung
Membentuk balada rindu untukmu
Ingin aku mengirim rindu
Lewat angin pagi
Ke kamar jiwamu
Ingin aku memeluk cinta
Dengan rindu yang mengalir
Pada alir darah
Ingin aku sampaikan selalu
Jika rindu dan kasih
Milik kita
Buka jendelamu
Biarkan pagi merayu
Dengan semilir rindu
Tengoklah rumput di halaman
Ada asa terbentang pada embun
Agar matahari tak menyakitimu
Ceritakan pada rumput liar
Tentang jarak terbentang
Pada rindu yang membara
pukul sembilan malam
Mentari itu sudah menua
Memanggil lewat cahaya
Sebagian masuk ke kamarmu
Mari kekasihku
Engkau pasti tahu hangatnya
Sehangat cinta yg bersemi
Pada dinding waktu
Kita menapak kisah
Biar kasih ini abadi
semilir di sini pada awan
berarak menuju hatimu
tempat aku menemukan rindu
di sana aku menjumpa cinta
yang selama ini terlupa
di antara dahan-dahan patah
dan air keruh yang mengalir
di sawah-sawah tak bertuan
awan itu adalah rindu
seumpama senja pada lembayung sore
aku menikmati puisiku
Mengukir kenang pada waktu
Sejumput rindu adalah cerita
Pada malam yang menua
Tunas-tunas pagi membentuk ranting
Bertumbuhlah daun-daun harap
Menempel dinding waktu
Berjalanlah dalam cahaya
Biar kita menerang cerita
Pada rindu kita bertemu
pada bincang bunga liar
yang tumbuh liar di halamantentang senja yang tak lagi sunyitak layu meski matahari membakarmereka mengajak tersenyum dari tangkainyaangin membawa kami pada rasa yg samapada senyap gemirisik di sudut hari
entah enggan beralih waktu menjelangtetap saja di sini pada sepoi beriramaentah mengapa sore ini bedabunga liar yg tumbuh di halamanmekar justru di penghujung waktuada yang layu sebab mekar pagi
namun, mereka seolah menitip pesantetaplah mekar meski kautak pernah dihargaitetaplah baik meski banyak yang menginjaktetaplah di sini jangan pergi dulukita menyaksikan bersamamatahari yang tinggal separuhdi sana kutitipkan rindupada senja abadi
saban sore
Untuk wanitaku dalam pelukan
Aku memelukmu pada rindu
Dengan deru darah mengalir
Untuk wanitaku dalam pelukan
Aku mendekapmu dalam kasih
Dan membelaimu dengan tulus
Untuk wanitaku dalam pelukan
Aku ingin selalu mengatakan
Bahwa rindu dan cinta ini bertuan
Ya .. kamu
Mentari belum meninggi
Ufuk timur masih merah
Awan masih di atas lereng
Secuil lagu surga
Bahana di halaman
Tak berbunga
Ingin aku bernyanyi
Tapi engkaulah nada
Biar aku masuk ke relungmu
Menjadi KITA
Cerita tentang waktu kita
Seperti bunga pada pagi
Meminang rindu
Awan ceritakan lagi
Pagi pada bunga-bunga
Menebar pada sudut hati
Awan pada pagi
Pagi pada bunga2
Aku padamu dengn rinduku
Cerita tentang waktu kita
Seperti bunga pada pagi
Meminang rindu
Awan ceritakan lagi
Pagi pada bunga-bunga
Menebar pada sudut hati
Awan pada pagi
Pagi pada bunga2
Aku padamu dengn rinduku
Kutuliskan puisiku pada daun-daun
Dan kukirimkan bersama embun
Kubacakan padamu di taman pagi
Puisiku membangunkan rumput
Menyapa kelopak kembang
Yang bunganya mekar mewangi
Kubacakan puisi dekat jendelamu
Kata2nya menembus celah pintu
Ya puisiku tentang rindu menggila
pada gugus bukit senyap
tanpa sapa pohon-pohon menunduk
ada rindu yang menanti
yang kini bertuan
tak bisa diurai masa
hanya hati yang bisa bicara
bawa biduk ini ke tepian'
setelah sekian waktu berlayar
menuju pelabuhan teduh
tempat kita berlabuh abadi
Kisah ini ini kutulis
Pada hamparan hatimu
Dengan ketulusan sebagai penanya
Kisah ini kuceritakan
Pada pagi dengan bunga-bunga
Dan menjadi balada
Kisah ini kupersembahkan
Untuk dirimu dalam pelukan
Dengan rindu yang menghangat
Pada nafas kita yang menyatu
sejak hujan musim ini
kau tak tampak lagi datang
sejenak memberi salam
dan payung lupa kau titipkan
menggores kembali sajak-sajakku
dalam deras butir hujan
sebab payungmu tertembus kata-kata
dan tubuhmu terhujan bait-baitnya
lalu kapadu menjadikannya balada
balada tentang hujan
walau tak berpayung lagi
beri aku lorong teduh
menuju hatimu
di sana cerita mengalir
sederas air hujan
Untuk wanita dalam perjalanan
Derap langkah yang engkau tempuh
Adalah deru rindu yang menggebu
Pada derasnya rasa yang tak tertahan
Untuk wanitaku dalam perjalanan
Ingatlah sayang hari ini
Betapa rindu adalah warna
Menggores di kanvas hati kita
Kelak menjadi gambar KITA
Untuk wanita dalam perjalanan
Kutitipkan rindu pada angin
Pada indahnya pohon2
Pada riak danau yang teduh
Di sana jemari kita mengatup
Lalu mengangkat paras
Dan mengucap kata cinta
Untuk wanita yang dalam perjalanan
Di sini selalu ada rindu yang bertuan
Yang kita sepakati dalam aliran darah
Sebab setiap detik waktu
Aliran itu adalah rindu
Yang saat ini dan selamanya
Adalah milik kita
Untuk wanitaku dalam perjalanan
Aku menunggu pulang
Pada tempat yang sama q menanti
Untuk bercerita tentang resah
Lalu engkau pun tertidur
Dalam pelukan
Ingin aku merayumu
Dengan aroma pagi yg manja
Pada pucuk bunga mekar
Ingin aku memanjamu
Dengan desir angin pagi
Menusuk jendela kamarmu
Ingin sekali aku mengecupmu
Dengan rindu abadi
Dan cinta tak lekang waktu
Mentari belum meninggi
Ufuk timur masih merah
Awan masih di atas lereng
Secuil lagu surga
Bahana di halaman
Tak berbunga
Ingin aku bernyanyi
Tapi engkaulah nada
Biar aku masuk ke relungmu
Menjadi KITA
Kita pernah bernyanyi bersama
Di bawah tiang sang saka
Tentang Indonesia Raya
Bagai guntur membelah angkasa
Tujuh puluh lima tahun sudah
Mengukir merdeka dalam sejarah
Di atas tulang belulang dan darah
Cipta rasa dan karsa semakin merekah
Di persada tenun persatuan bersama
Pada dada garuda kita satukan rasa
Menjaga rahim pertiwi tak binasa
Biar Indonesia semakin perkasa
Dalam hening pagi
Seolah bernada
Nyanyikan balada
Di antara rumput liar
Sekejap alam terhenyak
Pada kicau burung
Bernyanyi riuh
Di antara kembang-kembang
Tak tahukah dikau
Di awal setiap pagi
Rindu adalah kata suci
Seperti pagi pada mentari
Demikian aku padamu berjanji
Rindu akan menjadi abadi
Tidurlah kasihku
Matahari sdh pergi
Dia tak ada di sini
Cahayanya berganti hitam
Tidurlah kasihku
Lihat lewat jendela kamarmu
Engkau melihat cahaya rembulan
Aku di sini juga memandangnya
Pada sinarnya kita beradu rindu
Tidurlah kasihku
Kupeluk erat tubuh indahmu
Bersama bulan kita menuju mimpi
Mimpi tentang kita
Pada cinta abadi
Kita melebur menjadi satu
S e l a m a n y a
Biar kubisik pada rembulan
Tentang air mata malam
Yg telah kuwakili
Hingga deras mngalir
Sederas rasa rindu
Yang tak pernah istirahat
Selalu ingin bersamamu
Tidurlah kasihku
Mimpikanlah kita
Pada rembulan yg sama
Aku memelukmu erat
ketika semua pergi, bergegas meninggalkan, segudang cemooh dan sumpah serapah terucap, bercerita ketika engkau tak ada, berpura-pura saha...