Rabu, 16 September 2020

BERANDA KITA

 Saat malam terjelang

Merona merah di barat

Jatuh tepat di pelukmu


Mungkin saja sore ini tak beda

Namun hadirmu memberi satu warna

Cinta tertuang pada susurnya


Tak pernah terlewat

Kita menapak bersama

Di beranda ini

Tawa dan rindu kita menyatu

Selamanya

PUISIKU JATUH

 Pagi ini puisiku jatuh di antara pohon2

Kata-katanya tertimpa ranting berduri

Dan melukai daun- daun hijau


Seolah pagi merestui

Daun- daun terluka 

Namun, engkau mentari

Menyembuhkan pagi

Dan menghangat awan2 beku


Mungkin puisiku tak berguna

Saat engkau tak lagi menyikap

Lalu tanpa arti membuangnya


Ingin sekali aku berkata

Inilah aku yg mencinta

Tak perlu ada luka 

Daun- daun tak lagi jatuh

Sebab kita bersama beranjak

Menyusuri waktu bersama 

Dalam harap membawa cahya

Apapun kita hadapi

Penuh cinta


DAUN DI PAGAR RUMAHMU

 

malam adalah kumpulan  kenang

tentang kisah tercerai berai dari pagi

terik siang melangkah  sore

lalu kita lupa senja itu di samping pagar


malam adalah cerita tentang daun-daun 

yang terhempas dari ranting

lalu angin membawanya   

dekat pagar rumahmu

yang menua seumur malam 

di bawah terang rembulan yang  tampak separuh


pergilah ke pagarmu walau sejenak saja

ada daun rindu terbang dari rembulan

tuk' merona di mimpi malammu

hingga engkau lupa kisah nestapa

dan tidurmu adalah sebuah pelepasan

yang membuat tersenyum pada bintang kejora


daun-daun kasih adalah ramuan 

engkau balut kala hati terluka


 malam itu  engkau pernah berkisah

 kutunggu hingga fajar menjemput

daun rindu rembulan  bersatu membentuk fajar harapan


Jumat, 11 September 2020

KUEJA NAMAMU

 Engkau pernah melihat mega

Bergemuruh terbang ke cakrawala

Gagah bagai perkasa


Pada langkahmu berderap

Duri dan kerikil kerap mengerat

Hingga engkau berhenti 

Tuk sekedar menulis kisah


Badaimu adalah cerita

 tak pernah engkau sendiri

Iman kepadaNya adalah doa


Engkau berdiri gagah

Pada kebenaranmu engkau perkasa

Tuhan menjagamu tiap langkah

Dan doa kita merekah


Pada kelopak harap berbunga

Engkau setegar kembang tak layu

Hinggai badai itupun berlalu

TENANGLAH

 Cerita semesta itu indah

Selalu ada dalam mentari

Di awal hari


Perjalanan mesti terus menapak

Lewati mentari-mentari

Hingga cerita dan cinta itu satu


Di titik ini waktu terus mengitari

Susur mentari yang kadang tak ramah

Meski terasa lelah berjuang



Raga kadang tak mampu mengungkap

Kala semua enggan terucap

Di kaki Salib-Nya beban kita terangkat

PERCIK RINDU

 Sebening cerita langit

Yang meminjam awan-awam

Angin gunung turun ke lembah


Pada lembah awan bercerita

Tentang kelokan sungai

Membentuk tapak-tapak hati


Bergemuruh riak-riaknya

Membentuk percik harap

Tuk’ melewati waktu dengan tenang

Sabtu, 05 September 2020

MINGGU CORONA

sesunyi altar
tak lagi mazmur terdengar
hanya guman sujud
pada bangku berjajar sepi
senyap ...


paduan suara tak melantun
hanya ayat suci perlahan dari jauh
memberi harap pada jiwa beku
meski hanya lewat media maya

itu minggu




  

AKU HARUS BAGAIMANA

 Aku harus berkata apa

Ketika rasaku selalu sama

Untuk sebuah nama


Kini harus aku jaga

Meski jarak sedikit berbeda

Namun rindu semakin menggila


Tidakkah engkau merasa

Saat cinta dan rindu di dada

Mengajakku untuk berkata

Aku mengasihimu selamanya

SABAN WAKTU

 Seperti kemarin

Rumput d halaman kita

Menggeliat manja


Titik-titik  air pagi

Mengalir begitu saja

Dari malam ke pagi


Embun cintamu

Mengalir laksana pagi

Selalu ada saban waktu

Jumat, 04 September 2020

KAUBUANG PUISIKU


tentang puisi kemarin
yang engkau buang
ke tempat sampah
sudah aku temukan kembali

bait-baitnya masih sama
kata-katanya tercampur polusi
lalu sajaknya terobek-robek
dan kini harus dijahit
menjadi naskah cinta

Kamis, 03 September 2020

MELUKIS NAMA

 Di atas persada ini

Aku lukis namamu

Pada kanvas abadi


Pada tenangnya telaga

Kubenamkan cerita

Dengan riak-riak rindu


Di daun- daun pagi

Engkaulah  mentari

Menghangat saat jiwaku dingin

Dan harapku lelah

Selasa, 01 September 2020

BERMAIN IRAMA


mungkin memang mesti kembali
menuju ke rahimnya hati
biar tak salah lagi
tak bisa hanya sekedar janji
apalagi hanya ingin menarik simpati
sebab tak tahu akhirnya nanti
bila saja mereka tak termakan puji
oleh lidah-lidah manis barangkali
sebab sudah tahu secara pribadi
sudahlah bermain dengan tirani
cukup tebal muka tak malu lagi
biar dungu tetap saja disebut pandai

DUDUK DULU

 malam telah turun

jangan beranjak dulu

purnama belum tampak
kita di beranda saja

biar hanya sekedar canda

TAK BERUBAH

 Pagi ini sama

Puisiku tak berubah

Untukmu yang tercinta


Pagi ini tak beda

Kata-kataku tak ubah

Sebagaimana cintaku


Pagi ini tetap sama

Dengan pagi2 berikut

Rindu tak pernah istirahat

ENGKAU NADA

 Sebentuk nada 

Engkau adalah lagu

Kasihmu notasinya


Sebentuk lagu

Engkau adalah simponi

Cintamu dawainya


Sebentuk kita

Engkau adalah mutiara

Kujaga hingga abadi


Bila boleh kukata

Engkau anggun

Parasmu bening

Seperti embun pagi ini

Di halaman rumah kita

tiada

  ketika semua pergi, bergegas meninggalkan,  segudang cemooh dan sumpah serapah terucap, bercerita ketika engkau tak ada, berpura-pura saha...