Buka jendelamu
Biarkan pagi merayu
Dengan semilir rindu
Tengoklah rumput di halaman
Ada asa terbentang pada embun
Agar matahari tak menyakitimu
Ceritakan pada rumput liar
Tentang jarak terbentang
Pada rindu yang membara
keindahan kata adalah cinta yang tak terungkap. rangkaian kehalusan budi, kepekaan rasa dalam nada lembut menjadi kata bersutera.cinta adalah terjemahan kata-kata menjadi perbuatan mengasihi,menyayangi dan meniadakan kebencian. mari merajut kata menjadi benang cinta agar boleh merenda cerita untuk esok yang pasti. "Cinta tak memberikan apapun, kecuali keseluruhan dirinya, utuh penuh, dia pun tak mengambil apa – apa, kecuali dari dirinya sendiri" (Khalil Gibran)
Buka jendelamu
Biarkan pagi merayu
Dengan semilir rindu
Tengoklah rumput di halaman
Ada asa terbentang pada embun
Agar matahari tak menyakitimu
Ceritakan pada rumput liar
Tentang jarak terbentang
Pada rindu yang membara
Kepadamu pagi menjelma
Pada titik- titik embun
Awan kepada daun-daun
Kepadamu pagi menyapa
Pada kisah yang terbentuk
Bintang fajar pada mentari
Kepadamu aku memadu janji
Antara puisi, awang dan mendung
Membentuk balada rindu untukmu
Ingin aku mengirim rindu
Lewat angin pagi
Ke kamar jiwamu
Ingin aku memeluk cinta
Dengan rindu yang mengalir
Pada alir darah
Ingin aku sampaikan selalu
Jika rindu dan kasih
Milik kita
Buka jendelamu
Biarkan pagi merayu
Dengan semilir rindu
Tengoklah rumput di halaman
Ada asa terbentang pada embun
Agar matahari tak menyakitimu
Ceritakan pada rumput liar
Tentang jarak terbentang
Pada rindu yang membara
pukul sembilan malam
Mentari itu sudah menua
Memanggil lewat cahaya
Sebagian masuk ke kamarmu
Mari kekasihku
Engkau pasti tahu hangatnya
Sehangat cinta yg bersemi
Pada dinding waktu
Kita menapak kisah
Biar kasih ini abadi
semilir di sini pada awan
berarak menuju hatimu
tempat aku menemukan rindu
di sana aku menjumpa cinta
yang selama ini terlupa
di antara dahan-dahan patah
dan air keruh yang mengalir
di sawah-sawah tak bertuan
awan itu adalah rindu
seumpama senja pada lembayung sore
aku menikmati puisiku
Mengukir kenang pada waktu
Sejumput rindu adalah cerita
Pada malam yang menua
Tunas-tunas pagi membentuk ranting
Bertumbuhlah daun-daun harap
Menempel dinding waktu
Berjalanlah dalam cahaya
Biar kita menerang cerita
Pada rindu kita bertemu
pada bincang bunga liar
yang tumbuh liar di halamantentang senja yang tak lagi sunyitak layu meski matahari membakarmereka mengajak tersenyum dari tangkainyaangin membawa kami pada rasa yg samapada senyap gemirisik di sudut hari
entah enggan beralih waktu menjelangtetap saja di sini pada sepoi beriramaentah mengapa sore ini bedabunga liar yg tumbuh di halamanmekar justru di penghujung waktuada yang layu sebab mekar pagi
namun, mereka seolah menitip pesantetaplah mekar meski kautak pernah dihargaitetaplah baik meski banyak yang menginjaktetaplah di sini jangan pergi dulukita menyaksikan bersamamatahari yang tinggal separuhdi sana kutitipkan rindupada senja abadi
saban sore
Untuk wanitaku dalam pelukan
Aku memelukmu pada rindu
Dengan deru darah mengalir
Untuk wanitaku dalam pelukan
Aku mendekapmu dalam kasih
Dan membelaimu dengan tulus
Untuk wanitaku dalam pelukan
Aku ingin selalu mengatakan
Bahwa rindu dan cinta ini bertuan
Ya .. kamu
Mentari belum meninggi
Ufuk timur masih merah
Awan masih di atas lereng
Secuil lagu surga
Bahana di halaman
Tak berbunga
Ingin aku bernyanyi
Tapi engkaulah nada
Biar aku masuk ke relungmu
Menjadi KITA
Cerita tentang waktu kita
Seperti bunga pada pagi
Meminang rindu
Awan ceritakan lagi
Pagi pada bunga-bunga
Menebar pada sudut hati
Awan pada pagi
Pagi pada bunga2
Aku padamu dengn rinduku
Cerita tentang waktu kita
Seperti bunga pada pagi
Meminang rindu
Awan ceritakan lagi
Pagi pada bunga-bunga
Menebar pada sudut hati
Awan pada pagi
Pagi pada bunga2
Aku padamu dengn rinduku
Kutuliskan puisiku pada daun-daun
Dan kukirimkan bersama embun
Kubacakan padamu di taman pagi
Puisiku membangunkan rumput
Menyapa kelopak kembang
Yang bunganya mekar mewangi
Kubacakan puisi dekat jendelamu
Kata2nya menembus celah pintu
Ya puisiku tentang rindu menggila
pada gugus bukit senyap
tanpa sapa pohon-pohon menunduk
ada rindu yang menanti
yang kini bertuan
tak bisa diurai masa
hanya hati yang bisa bicara
bawa biduk ini ke tepian'
setelah sekian waktu berlayar
menuju pelabuhan teduh
tempat kita berlabuh abadi
Kisah ini ini kutulis
Pada hamparan hatimu
Dengan ketulusan sebagai penanya
Kisah ini kuceritakan
Pada pagi dengan bunga-bunga
Dan menjadi balada
Kisah ini kupersembahkan
Untuk dirimu dalam pelukan
Dengan rindu yang menghangat
Pada nafas kita yang menyatu
sejak hujan musim ini
kau tak tampak lagi datang
sejenak memberi salam
dan payung lupa kau titipkan
menggores kembali sajak-sajakku
dalam deras butir hujan
sebab payungmu tertembus kata-kata
dan tubuhmu terhujan bait-baitnya
lalu kapadu menjadikannya balada
balada tentang hujan
walau tak berpayung lagi
beri aku lorong teduh
menuju hatimu
di sana cerita mengalir
sederas air hujan
Untuk wanita dalam perjalanan
Derap langkah yang engkau tempuh
Adalah deru rindu yang menggebu
Pada derasnya rasa yang tak tertahan
Untuk wanitaku dalam perjalanan
Ingatlah sayang hari ini
Betapa rindu adalah warna
Menggores di kanvas hati kita
Kelak menjadi gambar KITA
Untuk wanita dalam perjalanan
Kutitipkan rindu pada angin
Pada indahnya pohon2
Pada riak danau yang teduh
Di sana jemari kita mengatup
Lalu mengangkat paras
Dan mengucap kata cinta
Untuk wanita yang dalam perjalanan
Di sini selalu ada rindu yang bertuan
Yang kita sepakati dalam aliran darah
Sebab setiap detik waktu
Aliran itu adalah rindu
Yang saat ini dan selamanya
Adalah milik kita
Untuk wanitaku dalam perjalanan
Aku menunggu pulang
Pada tempat yang sama q menanti
Untuk bercerita tentang resah
Lalu engkau pun tertidur
Dalam pelukan
Ingin aku merayumu
Dengan aroma pagi yg manja
Pada pucuk bunga mekar
Ingin aku memanjamu
Dengan desir angin pagi
Menusuk jendela kamarmu
Ingin sekali aku mengecupmu
Dengan rindu abadi
Dan cinta tak lekang waktu
Mentari belum meninggi
Ufuk timur masih merah
Awan masih di atas lereng
Secuil lagu surga
Bahana di halaman
Tak berbunga
Ingin aku bernyanyi
Tapi engkaulah nada
Biar aku masuk ke relungmu
Menjadi KITA
Kita pernah bernyanyi bersama
Di bawah tiang sang saka
Tentang Indonesia Raya
Bagai guntur membelah angkasa
Tujuh puluh lima tahun sudah
Mengukir merdeka dalam sejarah
Di atas tulang belulang dan darah
Cipta rasa dan karsa semakin merekah
Di persada tenun persatuan bersama
Pada dada garuda kita satukan rasa
Menjaga rahim pertiwi tak binasa
Biar Indonesia semakin perkasa
Dalam hening pagi
Seolah bernada
Nyanyikan balada
Di antara rumput liar
Sekejap alam terhenyak
Pada kicau burung
Bernyanyi riuh
Di antara kembang-kembang
Tak tahukah dikau
Di awal setiap pagi
Rindu adalah kata suci
Seperti pagi pada mentari
Demikian aku padamu berjanji
Rindu akan menjadi abadi
Tidurlah kasihku
Matahari sdh pergi
Dia tak ada di sini
Cahayanya berganti hitam
Tidurlah kasihku
Lihat lewat jendela kamarmu
Engkau melihat cahaya rembulan
Aku di sini juga memandangnya
Pada sinarnya kita beradu rindu
Tidurlah kasihku
Kupeluk erat tubuh indahmu
Bersama bulan kita menuju mimpi
Mimpi tentang kita
Pada cinta abadi
Kita melebur menjadi satu
S e l a m a n y a
Biar kubisik pada rembulan
Tentang air mata malam
Yg telah kuwakili
Hingga deras mngalir
Sederas rasa rindu
Yang tak pernah istirahat
Selalu ingin bersamamu
Tidurlah kasihku
Mimpikanlah kita
Pada rembulan yg sama
Aku memelukmu erat
Pagi itu selalu indah
Selalu mekar kuncup-kuncup daun
embun ingin bercerita
Taman kepada bunga-bunga
Masih seperti kemarin
Pagi bercerita pada mentari
Tentang mimpi semalam
Saat KITA adalah kisah
Berbalut rindu-rindu taman
Memekarkan harapan pada kembang2
Di sinilah aku berhenti
Untuk terakhir kalinya
Merajut cerita
Pada halaman-halaman rindu
Yang selama ini tak bertuan
Dengan sejuta alasan
Aku akhirnya mengerti
Rindu itu ya tentang dirimu
hanya berguman cinta
Cinta padamu tak perlu alasan
Dan kurasakan kini
Cinta itu bagai bola salju abadi
Mencintai hingga tiada
Engkau selalu berkisah
Pada pagi dengan mentari
Tentang waktu yang datang dan pergi
Kali ini malam pun berkisah
Tentang pagi yang datang merapat
Hingga tak kuasa embun menetes
Di tubuh indahmu yang mewangi
Pada kisah diarymu
Ada catatan tua
Namun selalu indah
Sebab aku ada di sana
Menemanimu hingga tiada
embun melelehkan rindu
pada sukma yang mengitari rasa
ada satu asa
esok ada
Pagi sekali
Embun belum jatuh ke tanah
Dari halaman tak berpagar
Kicau burung bernyanyi
Kabarkan ufuk timur memerah
Pada jendela kamar tua
Aroma melati membangunkan lelap
Dari sudut taman di antara bunga liar
Kuncup lainnya bertunas senyum
Aku memungut kicau dan melati
Kuingin membawanya sekali lagi
Untuk menemanimu di persada pagi
Dan ingin sekali mengungkapkan hati
Pada melati, kicau aku berjanji
Bersamamu sepanjang hari
Saat fajar mereka
Ada kisah waktu
Antara malam dan pagi
Tentang impi yang mungkin tertunda
Ada warna jingga
Di ufuk timur nan jauh
Mengawal kisah ini
Antara rindu dan cinta
Terbentang antara rasa
Mungkin sebentar saja
Matahari beredar
Membentuk susur masa
Lalu kembali ke peraduan
namun, kisah kita abadi
pada jiwa menyatu
Selalu saja ada cerita
Tentang senja yang senyum
Yang engkau tabur dengan cinta
Selalu saja ada kisah
Pada senja yang hampir terbenam
Meninggalkan ramah dalam dada
Sebab engkau ramu dengan tulus
Hingga rindu tak pernah pupus
Terimakasih hadirmu
Engkau semakin merona
Dengan lembayung jingga
Cintamu yang jujur
Aku bertelut di kakimu
Dan merangkulnya selalu
Sebagaimana rindu ini
Selalu bertuan
Mentari indah
Manja di pelupuk timur
Bangunkn daun-daun
Selaksa rasa
Hangat laksana fajar
Pada dinding waktu
Kita melukis kisah
Kasih untukmu
Semilir senja ini tak biasanya
Tak seperti kemarin dan waktu lalu
Ada guratan kisah pada lembayung
Entah engkau tahu
Senja kabarkan pada awan menurun
Tentang rindu yang bertuan
Senja ini semakin memerah
Sebentar lgi berganti malam
Ada bulan di atas rumahmu
Yang kulihat pada cantiknya parasmu
Dan rinduku mengeja setiap denyut nafasmu
#puisi #sajak
Sebentuk pagi
Embun turun
Luluhkan waktu
Ada kisah pada fajar
Yang selalu merona
Tentang rindu ini
Tak pernah pudar
Hingga waktu tiada
Dan aku selalu sama
menemanimu tiada henti
Untuk abadi
Bersamamu
Engkau menuliskan kisah pada malam
Lalu diceritakan pada pagi
Tentang daun pada embun
Itu rindu kita
Saban waktu selalu ada
Mengisi ruang relung ini
Hingga hari menjadi indah
Kasihku, ada kisah kita
Pada catatan waktu
Merawat rindu hingga tiada
Ada kembang pagiBermekar setangkaiEnduskan wangi surgaDan di kelopaknyaNamamu kuejaHingga ke relung nuraniQ mencium aroma harumTubuhmu
ketika semua pergi, bergegas meninggalkan, segudang cemooh dan sumpah serapah terucap, bercerita ketika engkau tak ada, berpura-pura saha...