Minggu, 30 Agustus 2020

RUMPUT LIAR

 Buka jendelamu

Biarkan pagi merayu

Dengan semilir rindu


 Tengoklah rumput di halaman

Ada asa terbentang pada embun

Agar matahari tak menyakitimu


Ceritakan pada rumput liar

Tentang jarak terbentang

Pada rindu yang membara

BALADA RINDU

 Kepadamu pagi menjelma

Pada titik- titik embun

Awan kepada daun-daun


Kepadamu pagi menyapa

Pada kisah yang terbentuk

Bintang fajar pada mentari


Kepadamu aku memadu janji

Antara puisi, awang dan mendung

Membentuk balada rindu untukmu

Jumat, 28 Agustus 2020

MENGIRIM RINDU

 Ingin aku mengirim rindu 

Lewat angin pagi

Ke kamar jiwamu


Ingin aku memeluk cinta

Dengan rindu yang mengalir

Pada alir darah 


Ingin aku sampaikan selalu

Jika rindu dan kasih

Milik kita

RUMPUT LIAR

 Buka jendelamu

Biarkan pagi merayu

Dengan semilir rindu


 Tengoklah rumput di halaman

Ada asa terbentang pada embun

Agar matahari tak menyakitimu


Ceritakan pada rumput liar

Tentang jarak terbentang

Pada rindu yang membara

PUKUL SEMBILAN MALAM

 pukul sembilan malam

di dekat pagar bambu
setangkai kembang
mekar menanti rembulan
rembulan turun
ke halaman rumah
mengajakmu keluar sebentar
meski di balik jendela
engkau menyibak tirai
pukul sembilan malam
bunga dan rembulan
turun ke mimpi
membawamu ke khayangan

Senin, 24 Agustus 2020

MENTARI MENUA

 Mentari itu sudah menua

Memanggil lewat cahaya

Sebagian masuk ke kamarmu


Mari kekasihku

Engkau pasti tahu hangatnya

Sehangat cinta yg bersemi


Pada dinding waktu 

Kita menapak kisah

Biar kasih ini abadi

Awan di Puncak

   

semilir di sini pada awan

berarak menuju hatimu

tempat aku menemukan  rindu

 di sana aku menjumpa cinta

yang selama ini terlupa

di antara dahan-dahan patah

dan air keruh yang mengalir

di sawah-sawah tak bertuan


awan itu adalah rindu 

seumpama senja pada lembayung sore

aku menikmati puisiku


Kamis, 20 Agustus 2020

MALAM MENUA

 Mengukir kenang pada waktu

Sejumput rindu adalah cerita

Pada malam yang menua


Tunas-tunas pagi membentuk ranting

Bertumbuhlah daun-daun harap

Menempel dinding waktu


Berjalanlah dalam cahaya

Biar kita menerang cerita

Pada rindu kita bertemu

BUNGA LIAR

 pada bincang bunga liar

yang tumbuh liar di halaman

tentang senja yang tak lagi sunyi

tak layu meski matahari membakar

mereka mengajak tersenyum dari tangkainya

angin membawa kami pada rasa yg sama

pada senyap gemirisik di sudut hari

 

entah enggan beralih waktu menjelang

tetap saja di sini pada sepoi berirama

entah mengapa sore ini beda

bunga liar yg tumbuh di halaman

mekar justru di penghujung waktu

ada yang layu sebab mekar pagi

 

namun, mereka seolah menitip pesan

tetaplah mekar meski kautak pernah dihargai

tetaplah baik meski banyak yang menginjak

tetaplah di sini jangan pergi dulu

kita menyaksikan bersama

matahari yang tinggal separuh

di sana kutitipkan rindu

pada senja abadi

 

saban sore

Rabu, 19 Agustus 2020

WANITA DALAM PELUKAN

 Untuk wanitaku dalam pelukan

Aku memelukmu pada rindu

Dengan deru darah mengalir


Untuk wanitaku dalam pelukan

Aku mendekapmu dalam kasih

Dan membelaimu dengan tulus


Untuk wanitaku dalam pelukan

Aku ingin selalu mengatakan

Bahwa rindu dan cinta ini bertuan

Ya .. kamu

MENTARI RINDU

 Mentari belum meninggi

Ufuk timur masih merah

Awan masih di atas lereng


Secuil lagu surga

Bahana di halaman 

Tak berbunga 


Ingin aku bernyanyi

Tapi engkaulah nada

Biar aku masuk ke relungmu

Menjadi KITA

MEMINANG RINDU

 Cerita tentang waktu kita

Seperti bunga pada pagi

Meminang rindu


Awan ceritakan lagi

Pagi pada bunga-bunga

Menebar pada sudut hati


Awan pada pagi

Pagi pada bunga2

Aku padamu dengn rinduku

BALADA PAGI

 Cerita tentang waktu kita

Seperti bunga pada pagi

Meminang rindu


Awan ceritakan lagi

Pagi pada bunga-bunga

Menebar pada sudut hati


Awan pada pagi

Pagi pada bunga2

Aku padamu dengn rinduku

Selasa, 18 Agustus 2020

JENDELA KAMARMU

 Kutuliskan puisiku pada daun-daun

Dan kukirimkan bersama embun

Kubacakan padamu di taman pagi


Puisiku membangunkan rumput

Menyapa kelopak kembang

Yang bunganya mekar mewangi


Kubacakan puisi dekat jendelamu

Kata2nya menembus celah pintu

Ya puisiku tentang rindu menggila


Senin, 17 Agustus 2020

MEMERAH SENJA


 senja yang memerah

pada gugus bukit senyap

tanpa sapa  pohon-pohon menunduk

ada rindu yang menanti

yang kini bertuan

tak bisa diurai masa

hanya hati yang bisa bicara

BIDUK KITA



 melajulah

bawa biduk ini ke tepian'

setelah sekian waktu berlayar

menuju pelabuhan teduh

tempat kita berlabuh abadi

UNTUKMU DALAM PELUKAN

 Kisah ini ini kutulis

Pada hamparan hatimu

Dengan ketulusan sebagai penanya


Kisah ini kuceritakan

Pada pagi dengan bunga-bunga

Dan menjadi balada


Kisah ini kupersembahkan

Untuk dirimu dalam pelukan

Dengan rindu yang menghangat

Pada nafas kita yang menyatu

BALADA HUJAN

 sejak hujan musim ini

kau tak tampak lagi datang

sejenak memberi salam

 dan   payung lupa kau titipkan

menggores kembali sajak-sajakku

dalam deras butir hujan

sebab payungmu tertembus kata-kata

dan tubuhmu terhujan bait-baitnya

lalu kapadu menjadikannya balada


balada tentang hujan 

walau tak berpayung lagi

beri aku lorong teduh

menuju hatimu

di sana cerita mengalir

sederas air hujan

DALAM PERJALANAN

 Untuk wanita dalam perjalanan

Derap langkah yang engkau tempuh

Adalah deru rindu yang menggebu

Pada derasnya rasa yang tak tertahan


Untuk wanitaku dalam perjalanan

Ingatlah sayang  hari ini

Betapa rindu adalah warna

Menggores di kanvas hati kita

Kelak menjadi gambar KITA



Untuk wanita dalam perjalanan

Kutitipkan rindu pada angin

Pada indahnya pohon2

Pada riak danau yang teduh

Di sana jemari kita mengatup

Lalu mengangkat paras

Dan mengucap kata cinta



Untuk wanita yang dalam perjalanan

Di sini selalu ada rindu yang bertuan

Yang kita sepakati dalam aliran darah

Sebab setiap detik waktu

Aliran itu adalah rindu

Yang saat ini dan selamanya 

Adalah milik kita


Untuk wanitaku dalam perjalanan

Aku menunggu pulang

Pada tempat yang sama q menanti

Untuk bercerita tentang resah

Lalu engkau pun tertidur 

Dalam pelukan

MENATAP

 menatapmu

pada bening embun

mataku segar

lalu aku terjaga

engkau di sini 

bersamaku

MERAYU PAGI

 Ingin aku merayumu

Dengan aroma pagi yg manja

Pada pucuk bunga mekar


Ingin aku memanjamu

Dengan desir angin pagi

Menusuk jendela kamarmu


Ingin sekali aku mengecupmu

Dengan rindu abadi

Dan cinta tak lekang waktu

BALADA NADA

 Mentari belum meninggi

Ufuk timur masih merah

Awan masih di atas lereng


Secuil lagu surga

Bahana di halaman 

Tak berbunga 


Ingin aku bernyanyi

Tapi engkaulah nada

Biar aku masuk ke relungmu

Menjadi KITA

KITA JAGA RAHIMNYA

Kita pernah bernyanyi bersama

Di bawah tiang sang saka

Tentang Indonesia Raya

Bagai guntur membelah angkasa


Tujuh puluh lima tahun sudah

Mengukir merdeka dalam sejarah

Di atas tulang belulang dan darah

Cipta rasa dan karsa semakin merekah


Di persada  tenun persatuan bersama

Pada dada garuda kita satukan rasa

Menjaga rahim pertiwi tak binasa

Biar Indonesia semakin perkasa

Jumat, 14 Agustus 2020

KETIKA RASA MENJADI KITA

Antara Alam, 
aku dan senyap
selalu saja ada kerinduan
Sebab rindu adalah memiliki
 seribu alasan
dan mencintai
 tidak pernah 
mempunyai alasan


 

KEMBANG MELIRIK PAGI

 Dalam hening pagi

Seolah bernada 

Nyanyikan balada

Di antara rumput liar


Sekejap alam terhenyak

Pada kicau burung

Bernyanyi riuh

Di antara kembang-kembang


Tak tahukah dikau

Di awal setiap pagi

Rindu adalah kata suci

Seperti pagi pada mentari

Demikian aku padamu berjanji

Rindu akan menjadi abadi

TIDURLAH KERINDUAN

 Tidurlah kasihku

Matahari sdh pergi

Dia tak ada di sini

Cahayanya  berganti hitam


Tidurlah kasihku

Lihat lewat jendela kamarmu

Engkau melihat cahaya rembulan

Aku di sini juga memandangnya

Pada sinarnya kita beradu rindu


Tidurlah kasihku

Kupeluk erat tubuh indahmu

Bersama bulan kita menuju mimpi

Mimpi tentang kita

Pada cinta abadi

Kita melebur menjadi satu

S e l a m a n y a


Biar kubisik pada rembulan

Tentang air mata malam

Yg telah kuwakili

Hingga deras mngalir

Sederas rasa rindu

Yang tak pernah istirahat

Selalu ingin bersamamu


Tidurlah kasihku

Mimpikanlah kita

Pada rembulan yg sama

Aku memelukmu erat

ODE SANG WAKTU

 Pagi itu selalu indah

Selalu mekar kuncup-kuncup daun

 embun ingin bercerita

Taman kepada bunga-bunga


Masih seperti kemarin

Pagi bercerita pada mentari

Tentang mimpi semalam

Saat KITA adalah kisah

Berbalut rindu-rindu taman

Memekarkan harapan pada kembang2


Di sinilah aku berhenti

Untuk terakhir kalinya

Merajut cerita 

Pada halaman-halaman rindu 

Yang selama ini tak bertuan

Dengan sejuta alasan

Aku akhirnya mengerti

Rindu itu ya tentang dirimu

 hanya berguman cinta

Cinta padamu tak perlu alasan

Dan kurasakan kini

Cinta itu bagai bola salju abadi

Mencintai hingga tiada

Rabu, 12 Agustus 2020

NOTE

 Engkau selalu berkisah

Pada pagi dengan mentari

Tentang waktu yang datang dan pergi


Kali ini malam pun berkisah 

Tentang pagi yang datang merapat

Hingga tak kuasa embun menetes

Di tubuh indahmu yang mewangi


Pada kisah diarymu

Ada catatan tua

Namun selalu indah

Sebab aku ada di sana

Menemanimu hingga  tiada

ESOK ADA


 Surya belum meninggi

embun melelehkan rindu

pada sukma yang mengitari rasa

ada satu asa 

esok ada

Selasa, 11 Agustus 2020

BEING


 membidik

pada fokus kata-kata

hingga engkau tahu

arti sebuah hadir


 

MELATI DI TAMAN RINDU

 Pagi sekali

Embun belum jatuh ke tanah

Dari halaman tak berpagar

Kicau burung bernyanyi 

Kabarkan ufuk timur memerah


Pada jendela kamar tua

Aroma melati membangunkan  lelap

Dari sudut taman di antara bunga liar

Kuncup lainnya bertunas senyum


Aku memungut kicau dan melati

Kuingin membawanya sekali lagi

Untuk menemanimu di persada pagi

Dan ingin sekali mengungkapkan hati

Pada melati, kicau aku berjanji

Bersamamu sepanjang hari

Senin, 10 Agustus 2020

FAJAR

 Saat fajar mereka

Ada kisah waktu

Antara malam dan pagi

Tentang impi yang mungkin tertunda


Ada warna jingga 

Di ufuk timur nan jauh

Mengawal kisah ini

Antara rindu dan cinta

Terbentang antara rasa


Mungkin sebentar saja

Matahari beredar 

Membentuk susur masa

Lalu kembali ke peraduan

namun, kisah kita abadi

pada jiwa menyatu

SENJA

Selalu saja ada cerita 

Tentang senja yang senyum

Yang engkau tabur dengan cinta


Selalu saja ada kisah

Pada senja yang hampir terbenam

Meninggalkan ramah dalam dada

Sebab engkau ramu dengan tulus

Hingga rindu tak pernah pupus


Terimakasih hadirmu

Engkau semakin merona 

Dengan lembayung jingga

Cintamu yang jujur

Aku bertelut di kakimu

Dan merangkulnya selalu

Sebagaimana rindu ini 

Selalu bertuan

Minggu, 09 Agustus 2020

MENTARI

 Mentari indah

    Manja di pelupuk timur

        Bangunkn daun-daun


                Selaksa rasa

                        Hangat laksana fajar

                                Pada dinding waktu

                                        Kita melukis kisah

                                                    Kasih untukmu

UNTUKMU

 Semilir senja ini tak biasanya

Tak seperti kemarin dan waktu lalu

Ada guratan kisah pada lembayung


Entah engkau tahu

Senja kabarkan pada awan menurun

Tentang rindu yang bertuan 


Senja ini semakin memerah

Sebentar lgi berganti malam

Ada bulan di atas rumahmu

Yang kulihat pada cantiknya parasmu

Dan rinduku mengeja setiap denyut nafasmu 


#puisi  #sajak

MERONA

 Sebentuk pagi

Embun turun

Luluhkan waktu


Ada kisah pada fajar

Yang selalu merona

Tentang rindu ini

Tak pernah pudar

Hingga waktu tiada


Dan aku selalu sama

menemanimu tiada henti

Untuk abadi

Bersamamu

MELUKIS KISAH

 Engkau menuliskan kisah pada malam

Lalu diceritakan pada pagi

Tentang daun pada embun

Itu rindu kita


Saban waktu selalu ada

Mengisi ruang relung ini

Hingga hari menjadi indah


Kasihku, ada kisah kita

Pada catatan waktu

Merawat rindu hingga tiada

Rabu, 05 Agustus 2020

TIANG PAGI


Pada tiang pagi
Bersama menatap mentari
Memerah membalut hati

Ada hangat terpancar jua
Untuk  impi yang belum menua
Tadi malam yang tertunda

Kali ini seolah memikat janji
Di bawah mentari aku berbakti
Untuk jiwa kita pada susur hari

MELATI DALAM EJA NAMAMU

tak seperti biasanya
melati di sudut halaman
yang pagar bambunya menua
mekar setangkai

pada angin pagi
berlari seolah membuka jendela
menusuk ke kamar
kabarkan malam berganti pagi

kuhirup manja
lalu pada aroma melati
kueja namamu
yang hadir di impiku
malam tadi

MENANTI MENUA

Mentari itu sudah menua
Memanggil lewat cahaya
Sebagian masuk ke kamarmu

Mari kekasihku
Engkau pasti tahu hangatnya
Sehangat cinta yg bersemi

Pada dinding waktu 
Kita menapak kisah
Biar kasih ini abadi

KEKASIH PAGI

Pada telaga yang airnya bening
Ada teratai berbunga setengah
Kembangnya menoreh kisah pagi

Hawa pagi mengantar aroma telaga
Lewati lembah-lembah sunyi
Antara pepohonan bergemuruh riuh

Aroma telaga bening menyujut
Membuka jendela kamarmu
Dan ingin sekali mengungkap
Ada rindu yang hening 
Untukmu di awal hari

AROMA TUBUHMU

Ada kembang pagi
Bermekar setangkai
Enduskan wangi surga
Dan di kelopaknya
Namamu kueja
Hingga ke relung nurani
Q mencium aroma harum 
Tubuhmu 

JENDELA KAMARMU


Mentari di sini masih mengintip
Hangatkan embun dingin menyatu daun2
Seolah enggan turun ke tanah

Ada kembang liar d halaman rumah kita
Yang saban pagi bermekar setangkai
Kabarkan pagi datang kembali

Kelopaknya adalah adalah harapan
Bunganya adalah kasih
Kupetik dan kuletakkan di jendela kamarmu




#jendela #kamar #rasa #puisi  #sastra  #blog #blogspot 

tiada

  ketika semua pergi, bergegas meninggalkan,  segudang cemooh dan sumpah serapah terucap, bercerita ketika engkau tak ada, berpura-pura saha...