Jumat, 16 Oktober 2020

 DEBUR RIAK

Ada kisah pantai pada debur ombak
Saban waktu membuat nyanyian
Hingga camar menari rendah
Heningnya adalah doa alam
Membentuk sujud di pasir - pasir
Di dahan bakau angin seolah bermazmur
Hari terik nyanyian ombak
Tetap saja bermadah
Hingga engkau hening pada riak
Membentuk irama begitu selamanya
Sebagaimana rindu
Adalah balada doa

KIDUNG DOA

  Melambung daun-daun sabda

Bertunas pada nafas pagi

Terhirup pada senyap
Diiring nada- nada mazmur
Terucap lirih di bait doa
Menyujud pada kidung sembah
Ingin saja kumengajak
Menyujud bersama
di depan altar-Nya
Kita duduk bersama
Menghayut hening
Bersatu di kidung doa

PUISIIKU USANG

 

masih belum kutulis
puisi yang telah disusun
di bangku tua yang sudah berlumut
huruf-hurufnya sudah usang
lalu di bawah sinar malam
bulan hilang entah kemana
ke halaman rumahmu barangkali
sudah malam
ingin aku bangunkan tidurmu
mencari bulan yang hilang
dan puisi kutulis lagi
sebelum esok bukan milikku
Engkau akan membacanya
di bawah rembulan
yang separuhnya dibawa pergi
ke semesta berikutnya

PELUK AKU BUNDA

 

 Berdiri   di sini di atas tanah fana

Saat Langkah penggali kubur korban korona menggila

Dengan tanah merah membekas  di telapak -telapak mereka

 

Aku lupa saat sudah senja

Aroma kamboja menyengat hingga menghujan kuburan korona

Tanpa pelayat,  tanpa ada yang menghantar, mayat itu sendirian

 

 

Di sisa waktu yang hanya sebentar  barangkali

Dalam bayang-bayang kematian  tengiang

Aku terjaga dan mulai berdoa, peluk aku bunda biar  virus ini pergi

KORONA MENJADI GOLGOTA

 

Di kaki salib, terentang di empat penjuru semesta

Dua tangan berlumur darah

Pedih  dan perih jatuhnya anak-anak manusia ke pangku bumi

 

Tatap sendu seolah tak mampu pandang

Saat  tangis dunia kehabisan air mata

Semua bersahut lemah tak berdaya, korona sudah menjadi golgota 

 

Satu persatu pergi tanpa pamit lalu  luka-luka  tertinggal di sini

Menembus juga ke jantung bunda

Luka kami bawa menjadi duka bunda

Menyapamu

 Secercah sinar

Di timur jauh

Adalah cahaya


Merambat di jendela kmarmu

Lewat celah jendela

Mengabarkanmu


Marilah kasih bergegas pergi

Bersama sinar pagi

Menapak dalam sepi

Dalam cinta ilahi

HARAP KITA

 Harap yang terhampar

dengan pagi pada fajar
laksana kembang bermekar
yang barangkali membuat kita bersabar
tetaplah menggenggam kabar
agar hari tak pernah memudar
meski waktu selalu tak sadar
menghantar kita semakin berkibar
sambut hari dengan syukur
sebab cinta-Nya tak pernah terukur
dari dahulu kini dan nanti tak pernah kabur

DURI

 kaubawa lagi duri-duri itu

pada mimpi-mimpi buruk
memanahkan panah dari busur-busur cemas
membidik esok yang semakin mendekat
entah... apa kita masih bisa merasakan mentari
atau harus tinggal di sini
pada jejak yang terikat waktu

tiada

  ketika semua pergi, bergegas meninggalkan,  segudang cemooh dan sumpah serapah terucap, bercerita ketika engkau tak ada, berpura-pura saha...