Selasa, 30 Juni 2020

seberkas doa




seberkas doa

laksana lentera
ketika jalan hampir sesat
pada asa yang hampir tenggelam
kuatkan jiwa kami 'tuk menata kembali
sisa-sisa harapan yang tercerai
di akhir juang kami


semoga damai dan cinta
kami rangkul menghadap khalikmu

Hilang


aku kehilangan bulan
yang saban malam mengintip
di jendela terbuka

aku mencari
pada puing rasa yang pergi
pada awan berarak tak menuju
pada lembah alpa cahaya
pada rindu yang tak bertuan

aku kehilangan malam
yang jaraknya selalu jauh
tak lagi mengintip
hingga tidurku
tak bermimpi

Jumat, 26 Juni 2020

BELUM PUISI




di akhir bait puisiku
tergores kata tentang sukma
seolah menjadi gita nada
bersenandung pada paras sabda
pada beranda ini
akupun tetap menulis
dengan pena yang hampir patah
serta kertas kusam yang pernah kauberi
saat puisiku belum jadi
karena kehabisan pena dan kertas
berdengung suaramu pada taut nada
dan kuciptakan gita kasih itu
di akhir bait puisiku

Senin, 15 Juni 2020

airmata kata-kata

puisiku
ya puisiku larut
kata-katanya sudah hancur
lariknya hilang
bait-baitnya tak berbatas
larut dalam air
ya air mata semesta
air mata kita
 airmataku
mata air puisi
melarut duka
mencuci sesah
sesak pada irama
irama jiwa
jiwa yang mengadu



mendayung teduh



kata-kataku kian terhempas
sejak air berubah banjir

nyaris tak terdengar lagi rintik
sebab riuh bagai ombak mengganas
menggulung di antara kata-kataku

lalu penuh teduh kau mengajak
merayu waktu di tenang danau 

ya cinta itu teduh

Selasa, 09 Juni 2020

Cawan Membeku Di Ujung Luka


aku ingin sekali meneguk secangkir anggur malam
dengan cawan  kesunyian yang telah  lama  sepi
kubiarkan hingga tetes-tetes terakhir menjadi darah 
cawan itu terjerembab dalam kaku di tanganku
hingga anggur tua itu tak lagi tersisa
dan titik darah perlahan menjadi beku
di tanah dingin


cawan itu terjerembab kaku di tanganku
tertusuk oleh luka-luka   yang menjelma awan gelap
lalu angin menjadi lirih dalam titik-titik air 
jatuh bersamaan dengan cawan  ke tanah basah
terdengar langkah  sepi di antara daun-daun jatuh
dan pekat malam semakin  larut dalam kelu
hanya aku dan diriku tanpa kamu di derai sunyi

cawan yang  anggurnya sedikit kuminum
kini menyatu dengan  air dari awan gelap
mengalirkan peluh   dalam perih
di bibir tanah yang terbuka lebar
kusisipkan  tragedi lukaku
menyatu tanpa tolak

semesta... malam ini kauajarkanku tentang sunyi
tentang rasa yang tak harus dilawan
tentang luka yang tak perlu dibalut dusta
tentang kawan yang seolah baik
tentang sahabat yang pergi
tentang mereka yang peduli
lalu berbalik menjadi tuli
sunyi .....

TERTINGGAL DI SINI





tertinggal di sini
stansa syair pujangga
bekas tapak peziarah
menghanyut dlm diam
hening aku kelu
jangan pergi 
kita bercerita di sini
tentang rintik hujan 
menyiram halaman kita

Sabtu, 06 Juni 2020

Senja di mimpi

jangan hukum aku dengan senja
dan menghakimiku dg lembayung

sebab malam adalah pengadilan
dimana mimpi adalah baik dan buruk

 sebelum songsong  bintang pagi 
karena esok adalah fajar
yg mungkin tertutup kabut
dan rindu adalah keabadian


#mimipi #rindu #senja #blog
#blogspot  #blasis
#puisi #romantis  #sajak









jangan singgah


jangan pernah singgah
atau sekedar membentuk bayang
bila akhirnya pegi
tak menetap

biar saja  kunci rumh terkunci rapat
agar tak lagi senja yang meratap

bawa pulang senjamu


pulanglah 
bawa kembali senjamu
untuk waktu yang tidak tentu
mungkin lebih indah
 senja itu kautitipkan   pada ibu bumi 
biar semesta paham  
  isi lidah yang kelu

pulanglah bawa senyapmu  kembali 

pada malam tak bercahaya



menggugat senja


aku mau menggugat senja
yang tak pernah peduli
saat surya tenggelam pada samudera rasa

entah 'tuk sekian lama
meski malam mengintip tak menahu
saat ditanya kapan purnama tiba
dari tidur panjangnya

Rabu, 03 Juni 2020

Hukum Semesta





semesta mempunyai hukum, yang baik selalu berjumpa dengan yang baik,yang jahat akan bertemu yang jahat. aku hanya ingi belajar menjadi orang baik agar kelak bisa bertemu dengan orang baik (blasis)

Generasi Hebat

private collection/blasis



"Barang siapa ingin mutiara harus berani terjun di lautan yang dalam".(Soekarno)

Seharusnya Di Sini

private collection/blasis



seharusnya engkau di sini
agar kita tak berjarak

rindu
adalah jarak pisah
antara dua hati
meski tak selalu sama

kusebut namamu


sehening bening
kuungkap doa
paa kata-kata diam
aku sadar
aku tak sunyi
angin menghembus begitu saja
sedang desau daun mengintip
pada kelu lidahku
aku hanya bisa menyebut lirih
itu doa
tanpa kata


bantu aku menuju malam
pada senja yang kering



se

hening dalam bait doa

bening dalam keheningan
megeja nafas kata-kata
pada ujar bait doa
membawa ke sang khalik
ada rindu di sini
kubingkai pada sujud





Merajut Senja


Senja Sunyi



sunyi di sini
tanpa kata kita
pagar  bambu masih sama
berpalang kabut
kau belum juga kembali

Selasa, 02 Juni 2020

Malam Yang Terluka


jangan kaulukai malam
dengan rindu yang diam
pada jendelayang mulai lapuk
angin itu wartakan cerita

berbaringlah sejenak
untuk waktu yang penat
dengan kisah rindu di pundak
akankah malam ini kita berjumpa
pada mimpi yang belum terbeli

jangan kaulukai malam
dengan rindu yang terpendam
esok masih akan menjadi kenang
bila saja engkau berusaha tenang
menenun rindu dengan benang-benang setia
biar malam ini tak ada luka

KEKASIH MALAM

kekasih malam,
tengoklah jendela rumah kita
yang saban sore tak pernah tertutup
entah engkau sengaja melakukannya
agar membiarkan angin pohon-pohon gunung
memberi kita kesenyapan nafas

kekasih malam,
tengoklah halaman kita
awan gunung yang tadi ke lembah
sudah di depan pagar rumah 
menyapa kita senja ini
sebentar lagi jam dinding tua kita beralih angka
dan senja itu hanya nama

kekasih malam, 
bunga-bunga itu yang tumbuh liar
di sekitar rumah kita yang tak berpagar
mewangi di jam sembilan malam
lalu kucurigai engkau mengambilnya setangkai
dan di telinga indahmu mengalirlah wangi malam
seakan bulan itu sudah turun ke rumah ini
tepatnya di parasmu

kekasih malam, 
lihat ke  atas
mega itu menipis  berarak 
beda dengan kemarin
seolah mengerti cerita kita hari ini
tentang rasa yang semakin dalam
menyatu pada bukit-bukit batu
menjadi dinding kisah kita
bulan tepat di atas kepalamu

kekasih malam,
marilah tidur
beralaskan kembang cinta
agar mimpi kita tentang esok
adalah langkah kita menyatu
antara kamu, aku dan semesta


private collection/blasis



ENTAH MENGAPA SENJAMU

private collection/blasis


entah mengapa
aku sangat menyukai senjamu
seakan banyak bercerita
tentang kisah hidup
yang selalu memberiku cinta
yang mengajarku
bahwa pahit bukan selalu derita
namun kisah yang harus ada

entah mengapa
aku suka senjamu
seolah banyak memberiku nada
untuk dinyanyikan
warna warni untuk kugambar

entah mengapa
aku menyukai senjamu
seolah memberiku dawai
agar membentuk harmoni
lalu malam adalah tangga nadanya
dan kita memandang bulan
bintang yang sama
dan tidur dibalut rindu
agar esok kita melangkah
tanpa ragu

Anggrek Cinta

private collection/blasis

Cinta memiliki jemari yang sehalus sutera, tapi kuku-kukunya yang runcing meremas jantung dan membuat manusia menderita karena duka. Dan cinta adalah sekumpulan duka yang terangkum dalam pujian doa, yang membumbung ke angkasa bersama aroma dupa.
[Kahlil Gibran]

Bunga tidak liar

private collection/blasis

Janganlah menangis, Kekasihku. Cinta tercipta untuk membuat mata-mata kita dan menjadikan kita pelayannya, agar kita mendapat anugerah kekuatan dan ketabahan. Hentikan airmatamu, karena kita telah mengangkat sumpah. [Kahlil Gibran]

Berdiri di sini untuk esok

Sahid Hotel-Makassar



waktu terus berjalan
tanpa pernah menoleh

ke depan adalah tujuan
esok adalah impian
kelak surga kita cipta
tetapi mulai dari sini

 “Bekerja dengan rasa cinta, berarti menyatukan diri dengan diri kalian sendiri, dengan diri orang lain dan kepada Tuhan. Tapi bagaimanakah bekerja dengan rasa cinta itu? Bekerja dengan cinta bagaikan menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmu yang akan memakainya kelak.” (Khalil Gibran)

berkhayal mimpi

malam ini sunyi
kita hanya berteman
 di khayal mimpi-mimpi

entah engkau merasa
sinar bintang tak lagi secerah
malam yang lalu
sebab tertutup awan diam

aku bersujud
pada sajadah harap
bulan yang kita tuju
adalah esok yang cerah

Kelopak Ragu

di resah jiwamu
pada kelopak yang layu
kautaburkan debu-debu jalanan
pada sepatu tua

pada taman yang penuh duri
kautanamkan syair-syair senja
dengan matahari sebagai bunganya

antar malamku ke peluk ilahi 
agar esok masih terlihat langkah
meski ragu-ragu


tiada

  ketika semua pergi, bergegas meninggalkan,  segudang cemooh dan sumpah serapah terucap, bercerita ketika engkau tak ada, berpura-pura saha...