kekasih malam,
tengoklah jendela rumah kita
yang saban sore tak pernah tertutup
entah engkau sengaja melakukannya
agar membiarkan angin pohon-pohon gunung
memberi kita kesenyapan nafas
kekasih malam,
tengoklah halaman kita
awan gunung yang tadi ke lembah
sudah di depan pagar rumah
menyapa kita senja ini
sebentar lagi jam dinding tua kita beralih angka
dan senja itu hanya nama
kekasih malam,
bunga-bunga itu yang tumbuh liar
di sekitar rumah kita yang tak berpagar
mewangi di jam sembilan malam
lalu kucurigai engkau mengambilnya setangkai
dan di telinga indahmu mengalirlah wangi malam
seakan bulan itu sudah turun ke rumah ini
tepatnya di parasmu
kekasih malam,
lihat ke atas
mega itu menipis berarak
beda dengan kemarin
seolah mengerti cerita kita hari ini
tentang rasa yang semakin dalam
menyatu pada bukit-bukit batu
menjadi dinding kisah kita
bulan tepat di atas kepalamu
kekasih malam,
marilah tidur
beralaskan kembang cinta
agar mimpi kita tentang esok
adalah langkah kita menyatu
antara kamu, aku dan semesta
| private collection/blasis |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar