keindahan kata adalah cinta yang tak terungkap. rangkaian kehalusan budi, kepekaan rasa dalam nada lembut menjadi kata bersutera.cinta adalah terjemahan kata-kata menjadi perbuatan mengasihi,menyayangi dan meniadakan kebencian. mari merajut kata menjadi benang cinta agar boleh merenda cerita untuk esok yang pasti. "Cinta tak memberikan apapun, kecuali keseluruhan dirinya, utuh penuh, dia pun tak mengambil apa – apa, kecuali dari dirinya sendiri" (Khalil Gibran)
Rabu, 11 Februari 2015
kayu salib
di kayu itu
senyap tak lagi ada
terentang dua tangan
kamipun menyujud sembah
kaubasuh dengan darah
dalam doa dan dosa
melebur dalam hening minggu
kami berdoa
senyap tak lagi ada
terentang dua tangan
kamipun menyujud sembah
kaubasuh dengan darah
dalam doa dan dosa
melebur dalam hening minggu
kami berdoa
Doa
kadang cerita kami hanyalah impi
terbentuk antara titik titik tak temu
laksana alur waktu yang menjauh
meninggalkan siang tanpa surya
sedang bibir lemah berwicara
di bangku tua kami sujud merendah
saban waktu kami menutup mata
mengatup kepalan tangan
kami hening.... doa...
terbentuk antara titik titik tak temu
laksana alur waktu yang menjauh
meninggalkan siang tanpa surya
sedang bibir lemah berwicara
di bangku tua kami sujud merendah
saban waktu kami menutup mata
mengatup kepalan tangan
kami hening.... doa...
namamu
jemari-jemari kami tersusun
merapat di sela-sela sujud
di dada jemaripun terkatup
tertunduk merendah direnung
peluh kami adalah doa-doa
menitik di derai kata-kata
terhantar pada senyap gelagah
sedang aku masih bertelut
ada namamu kusebut
walau terbata
merapat di sela-sela sujud
di dada jemaripun terkatup
tertunduk merendah direnung
peluh kami adalah doa-doa
menitik di derai kata-kata
terhantar pada senyap gelagah
sedang aku masih bertelut
ada namamu kusebut
walau terbata
Kamis, 05 Februari 2015
https://www.youtube.com/watch?v=hTmN-liFl5k
pergilah
dalam hening
kautemukan butiran air
memercik dalam sunyi
kaukembali lagi
membawa hatimu
dalam damai
dalam hening
kautemukan butiran air
memercik dalam sunyi
kaukembali lagi
membawa hatimu
dalam damai
Pada Keping Kisah
untuk sekian kalinya kau berkata
ketika lampu-lampu kota belum menyala
saat deru mobil dan celoteh senja memadat jalan
di hias debu memajang memekak suasana
hingga kita tersungkur sebelum malam turun
tanpa pandang terus berkilah
rasa yang tak pernah terungkap tak jua paham
akankah sebuah tanya akan selalu menjadi seru
saat kicau tak lagi memudar makna
hingga relung telusuk meminjam tempat
tak ada lagi pelipur kala semua pergi menjadi
awang-awang berbaur debu-debu kota
pada telusur ramai yang memadat kalbu
sungguh kita terjebak macet
seolah jantung tak mampu memompa darah
kita tersungkur di panas di diam kata-kata
selalu menjadi tanya di awal mentari
tak pantaskah kita berjalan bersama
atau hari akan meninggalkan kisah
tentang tanya yang tak jua terjawab
tertelan debu-debu dalam raung musik tak berirama
terus kita mencari makna
lalu kau dan aku tetap bertanya
tak perlu kita pejamkan rasa
sebab kautahu kita adalah sama
mencari jawab di atas kata-kata tanya
mencari rindu di keping-keping cerita
jangan kaupergi sebelum tanyaku menemui ajal
hingga jawabannya adalah abadi
Manila, February 6, 2015
ketika lampu-lampu kota belum menyala
saat deru mobil dan celoteh senja memadat jalan
di hias debu memajang memekak suasana
hingga kita tersungkur sebelum malam turun
tanpa pandang terus berkilah
rasa yang tak pernah terungkap tak jua paham
akankah sebuah tanya akan selalu menjadi seru
saat kicau tak lagi memudar makna
hingga relung telusuk meminjam tempat
tak ada lagi pelipur kala semua pergi menjadi
awang-awang berbaur debu-debu kota
pada telusur ramai yang memadat kalbu
sungguh kita terjebak macet
seolah jantung tak mampu memompa darah
kita tersungkur di panas di diam kata-kata
selalu menjadi tanya di awal mentari
tak pantaskah kita berjalan bersama
atau hari akan meninggalkan kisah
tentang tanya yang tak jua terjawab
tertelan debu-debu dalam raung musik tak berirama
terus kita mencari makna
lalu kau dan aku tetap bertanya
tak perlu kita pejamkan rasa
sebab kautahu kita adalah sama
mencari jawab di atas kata-kata tanya
mencari rindu di keping-keping cerita
jangan kaupergi sebelum tanyaku menemui ajal
hingga jawabannya adalah abadi
Manila, February 6, 2015
Rabu, 14 Januari 2015
Hatimu
itu kerontang
membelah tanah
menyengat peluh matahari
bagai
tiga mengepung empat mata angin
aku ingin berteduh
di hatimu segar berlindung
Pada Sebuah Ketika
musim ini menggila,
kering merobek jantung kotamu,
sedang
debu-debu jalanan menusuk lorong-lorongnya
kota telanjang tanpa pohon
menggambar beringas
kita asyik bercengkerama
tentang kotbah-kotbah bijak
kita
terlalu gaduh berbicara ajaran sang guru
tentang utopia negeri tanpa derita
di
atas awan
lalu membangun kemah
membungkus kepalsuan
kita lupa banyak telapak
tanpa alas
bak menginjak bara berdesah di antara peluh beton-beton sombong
mengangkang kini harapan
pada kerontang musim
entah sampai kapan
Celoteh Malam
celoteh malam
di beranda kita
dengan bulan meredup di
atapnya
lurus sinarnya tepat di wajahmu merona
di antara bisik-bisik sebelum
hening
kata malam bulan itu sudah berganti bening
tak lagi terdengar denting
mendayu perahu di segar angin malam
membuai darat
sebab di sini kaumerenda kata
dengan bulan di wajahmu
aku membaca kisah tentang waktu
yang tak lagi kembali
di beranda kita
Jumat, 09 Januari 2015
Aku Masih Menanti di Sini
beranjak sudah waktu meniarap
pada bongkahan cerita di ujung jalan
menimpa banyak mata terukir di lukis hari
sedang senja makin merapat
engkau belum jua kutemukan
sebentar aku bertanya
pada dinginnya waktu
di gugus awan yang mengarak
membentuk mendung
jatuh di sudut jendela kamar
sebentar jua kau terbangun
karena rintik menyapa di atapmu
akh andai saja engkau tahu
betapa aku ingin bertemu
walau senja semakin dekat
mendung berganti tangisan langit
aku tanpa payung membasah badan
menengok ke arah ke jendelamu
engkau pastinya belum juga terbangun
aku menunggumu
hingga malam beradu senyap denganku
aku masih menanti
pada bongkahan cerita di ujung jalan
menimpa banyak mata terukir di lukis hari
sedang senja makin merapat
engkau belum jua kutemukan
sebentar aku bertanya
pada dinginnya waktu
di gugus awan yang mengarak
membentuk mendung
jatuh di sudut jendela kamar
sebentar jua kau terbangun
karena rintik menyapa di atapmu
akh andai saja engkau tahu
betapa aku ingin bertemu
walau senja semakin dekat
mendung berganti tangisan langit
aku tanpa payung membasah badan
menengok ke arah ke jendelamu
engkau pastinya belum juga terbangun
aku menunggumu
hingga malam beradu senyap denganku
aku masih menanti
Dalam Rapuh Kami
kerapuhan ini
pertanda manusia kami
ingin kami bawa di sujud bersamamu
segenap kelebihan yang termiliki
memberi kami kekuatan baru
bantu kami menemukan damai
agar damai menjadi milik kami
milik dunia ini dan itu damaimu juga
pertanda manusia kami
ingin kami bawa di sujud bersamamu
segenap kelebihan yang termiliki
memberi kami kekuatan baru
bantu kami menemukan damai
agar damai menjadi milik kami
milik dunia ini dan itu damaimu juga
Kenang Sutera
mengukir kenang bersamamu
bagai merajut benang - benang kisah
terpintal menjadi selimut kasih
membawa rindu pada hangat jemari-jemari langit
meneduh awan putih di jendela kamar
sebentuk cerita menyusur tiang-tiang harap
bangunkan tidur yang terlelap impi
seakan tak mau beranjak pergi
tapi tak jua begitu
sebab kemarin tak pernah bisa terulang
mari menatap maju
di sana ada masa depan
benang-benang itu menjadi sutera
bagai merajut benang - benang kisah
terpintal menjadi selimut kasih
membawa rindu pada hangat jemari-jemari langit
meneduh awan putih di jendela kamar
sebentuk cerita menyusur tiang-tiang harap
bangunkan tidur yang terlelap impi
seakan tak mau beranjak pergi
tapi tak jua begitu
sebab kemarin tak pernah bisa terulang
mari menatap maju
di sana ada masa depan
benang-benang itu menjadi sutera
Kamis, 08 Januari 2015
Rabu, 07 Januari 2015
Lengang
lengang lagi jalan ini,
meski riuh rendah suara
menghayut di
pusaran rindu.
membeku diam
seolah meruntuhkan daun-daun
merontokkan
carang-carang pohon
jatuh terkulai
lemas tersapu bayu.
di jalan ini
seuntai
nada pernah terucap
meski hanya bayang maya
yang mengintai saban waktu
semua
tersurut
hingga sunyi melengang
di paduan kabut
melepas dingin
sedang tak ada
lagi balutan hangat
yang terucap tak henti
jalan ini adalah rindu menapak
setiap denyut jantung
antara kesunyian dan harapan,
entah untuk ke sekian
kalinya
merembes mengitari pinggir
terdiam pula hingga tak lagi
mendengar
hembusan dan hela nafas daun-daun
seolah hanyut dalam tragedi alam
memproakporandakan nurani
Bisakah sebentar saja kupinjam nurani
agar tahu
betapa kupertahankan jalan ini
biar tidak lengang????
Minggu, 04 Januari 2015
Memijar Mentari
jangan pergi dulu
matahari belum meninggi
sedangkan kita
kehilangan sinar
berkelebat bayang nan menghikayat
pada sadur kata-kata
yang
tak mampu terucap
menyatu pada cahaya
di dian kita temukan pancar
Ketika Kita
di sana disini
di sini di sana
kamu aku
aku kamu
menjadi
kita
tetap kita
kita adalah kamu
kita adalah aku
kita itu kamu dan aku
Langganan:
Postingan (Atom)
tiada
ketika semua pergi, bergegas meninggalkan, segudang cemooh dan sumpah serapah terucap, bercerita ketika engkau tak ada, berpura-pura saha...
-
mungkin memang mesti kembali menuju ke rahimnya hati biar tak salah lagi tak bisa hanya sekedar janji apalagi hanya ingin menarik ...
-
Untuk wanitaku dalam pelukan Aku memelukmu pada rindu Dengan deru darah mengalir Untuk wanitaku dalam pelukan Aku mendekapmu dalam kasih Da...
-
aku ingin sekali meneguk secangkir anggur malam dengan cawan kesunyian yang telah lama sepi kubiarkan hingga tetes-tetes terakhir ...



