musim ini menggila,
kering merobek jantung kotamu,
sedang
debu-debu jalanan menusuk lorong-lorongnya
kota telanjang tanpa pohon
menggambar beringas
kita asyik bercengkerama
tentang kotbah-kotbah bijak
kita
terlalu gaduh berbicara ajaran sang guru
tentang utopia negeri tanpa derita
di
atas awan
lalu membangun kemah
membungkus kepalsuan
kita lupa banyak telapak
tanpa alas
bak menginjak bara berdesah di antara peluh beton-beton sombong
mengangkang kini harapan
pada kerontang musim
entah sampai kapan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar