Rabu, 14 Januari 2015

Pada Sebuah Ketika

musim ini menggila, 
kering merobek jantung kotamu, 
sedang debu-debu jalanan menusuk lorong-lorongnya
 kota telanjang tanpa pohon 
menggambar beringas
 kita asyik bercengkerama 
tentang kotbah-kotbah bijak
 kita terlalu gaduh berbicara ajaran sang guru 
tentang utopia negeri tanpa derita 
di atas awan
 lalu membangun kemah 
membungkus kepalsuan
 kita lupa banyak telapak tanpa alas 
bak menginjak bara berdesah di antara peluh beton-beton sombong 
mengangkang kini harapan
 pada kerontang musim 
entah sampai kapan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tiada

  ketika semua pergi, bergegas meninggalkan,  segudang cemooh dan sumpah serapah terucap, bercerita ketika engkau tak ada, berpura-pura saha...