Minggu, 31 Mei 2020

SEMESTA MENGARAH

pada semesta engkau berujar
tentang masa yang kadang tak ramah
tentang waktu yang kadang kaku
kaki kecilmu engkau kuatkan untuk menumpu
tangan yang tak seberapa besar menopang harap
pada penciptamu engkaupun menengadah
walau hujan sepanjang waktu
dan malampun tanpa gemintang
engkaupun pergi untuk sebuah asa
esok adalah cerita indah
tentang harap berbuah cinta

Arunglah dengan kepak layarmu
pada tiangnya menancap setia
walau waktu terhadang badai

kita tak pernah usai

Di Resahmu

pada resahmu
hujan itu
semakin menjadi
berbaur di butirnya
menjadi air mata
biarkan aku meminjam panas
meski hanya sebentar
tuk sekejap menyeka
sebelum esok embun tak turun

di pucuk daunmu

Duduklah Bersamaku


kemarilah
angin tak lagi berhembus
lihat ada sejengkal harap
pada bangku tua
untuk kita bicara
walau hanya sejenak

kata menjadi cerita

Vught Netherland

LARIK PUISIKU

masih mencarimu
di antara larik-larik puisi
yang kubuat sejak tadi
sedang hujan belum reda
membasahi kata-kata
mengoyak kertas kutulis
di antara abjad yang kueja
hendak kutitipkan rindu
pada daun-daun hijau

di sana akan bertunas bunga

MEMINJAM SENJA LAGI

 ingin saja aku bersapa
tuk sedikit meminjam senjamu
sebelum waktu kauambil lagi
sebab hari akan pergi
dan kami tetap d sini
memeluk hari yang penuh peluh
dan kaujanjikan doa
dalam senja yg hening
hanya kamu dan aku

CURAHAN RASA

Seberapapun usaha kita saat ini, sebanyak apapun jerih yang dilakukan bahkan dengan airmata sekalipun, kalau saja Tuhan belum merestui, maka itu belum terlihat hasilnya. Namun, saya percaya bahwa berkat dan rahmat-Nya terjadi sangat indah pada waktu dan tempat yang tepat. Hanya kesabaran yang terus diperbaharui. Tetaplah terus berbuat baik dan jangan berhenti ketika dicemooh. Sambut kegagalan dengan harapan,lalu kesuksesan bukanlah sesuatu yang mustahil bila terus berusaha tanpa lelah sebab Dia mencintai juga tanpa pernah letih

BP

KUPINJAM

kupinjam pagimu
sebentar saja
kupinjam bersama embun
biar kuat aku menapak
pada lorong yang terluka
sebelum mentari tenggelam
dengan raga yang hampir terbenam

untuk sebuah harap yang tak mau kelam


GUNUNG NONA-ENREKANG

CURHAT

Terkadang terasa seperti berjalan sendiri. Saat semua perjuangan dicurahkan untuk sebuah kebaikan dan diacuhkan hanya karena sebuah ketakutan yang tidak beralasan, di sana sebenarnya perasaan ditelantarkan menjadi kenyataan. 
Namun, di tengah kegelisahan yang diselipi kesendirian berjuang untuk kebaikan bersama, tetap ada sebuah harapan tentang apa yang diperjuangkan. Untuk kebaikan bersama, mari tinggalkan ketakutan yang tidak perlu, sembari bergandengan tangan untuk maju dan berbaur dalam perubahan Bila saja kita tidak mau tertinggal selangkah dan bahkan belum mulai melangkah sedang orang lain sudah seribu melangkah, ketakutan yang tidak perlu harus pergi dan tiada

SAYAP PATAH

terbanglah...

saat sayap-sayapmu belum patah

jelajahi birunya samudera

taklukan langit

singkirkan awan-awan mendung

lalu, saat kau tak temukan apa-apa

jangan terus mengepakan

ku takut sayap-sayapmu menua

tersungkur pada jeram baka

jangan lupa kembali

 sarang ini masih ada

hanya menunggu

waktu kembalimu


HENING

Anggun malam
melirik bintang-bintang
jatuh di jendela
pada titik air
di manja hembusan

aku, malam dan hening

menyatu

KUTIPAN: Bertahan Pada Pilihan


Karena memilih itu mudah, yg susah itu bertahan itu susah.. pada awalnya semua bangga dengan pilihannya,pada akhirnya tidak setia dengan pilihannya.
Jadi yg berhasil menentukan dan mendapatkan pilihan, ingat ada yg lebih tidak mudah, yakni bertahan pada pilihan. Sementara yg kandas,ingat ajarkan lidah dan bibirmu untuk membuat senyuman dan cerita indah dan bukan untuk menghina dan memfitnah orang lain apalagi untuk org yang pernah kita sayang. Karena jika cinta digariskan orang yang terpisah sekalipun akan disatukan kembali.(anonim)



LUPA


saban waktu
mendung itu cerita
tentang sebuah lupa
dan alpanya cerah

BELUM BERJUDUL

pagi
surya belum meninggi
mari bawa hati
sujud menunduk pada ilahi
agar diberkati hari
untukmu dan untukku kini
biar ilahi ada pada insani

Hingga waktu abadi

SAPA ILAHI

dikau tahu
ketika pagi membangunkan semesta
romantika Tuhan hadir di sana
di timur pada mentari meninggi
merekahlah kelopak-kelopak cinta
merona pada gugus rindu
meleleh pada embun-embun rasa
jatuh ke tanah basah
di sana kau dan aku berpijak
menghanyut segar di sapa Ilahi

tuk juang kita menatap hari

MEMELUK MALAM

selalu saja datang
angan tanpa kesan
lalu pergi begitu kencang
tinggalkan kelam
pada hati yang lebam
di peluk malam

tanpa bintang

SENJA MEMERAH

Senjamu memerah
Semesta kutanya
Jawabnya sama
Diam
Tiada kata
Entahlah

Senandung Doa

Senandung melembut
Seiiring mazmur turun ke altar
Pada lutut-lutut menyembah
Di antara bangku tua
Hening kami adalah doa

Tersusun atas senyap-senyap waktu
Kitari sukma melingkar
Di sajadah sembahan puja

Rindu kami membalut luka-luka
Ke hadapanmu hati kamipun sembuh
ada nama lirih kusebut....


SENJA MURAM

senjamu sudah muram
tiada lagi merona
aku memang tak tahu beda
apa itu mendung atau beranjak malam
sebab semuanya sama
semesta beri aku purnama
biar aku paham lorong waktu


KELU

pulanglah...
bawa kembali diammu
untuk waktu yang mungkin tak tentu
mungkin lebih indah
diam itu kauceritakan
pada ibu bumi
biar semesta mengerti
isi lidah yang kelu

pulanglah...
bawa rindumu kembali
pada diam
sebab engkau tak akan dipeduli
meski kau sudah memperhatikan


senja itu
selalu datang
mendekat pintu rumah
lalu aku tak bisa kemana
aku masih menanti
hingga purnama

diberi malam

SEPEKAT

malam semakin pekat
pergilah cahaya yang kian meredup
jangan pernah kembali lagi
meski esok fajar masih saja sama
datang untuk pergi
hanya berlabuh sebentar

yang kita sepakat sebagai hari

Bulan Separuh Malam


pada separuh sinar bulan
kueja hening malam
menunggu purnama tiba
hingga aku pergi
hilang

menjemput tiada

KORONA

 Luka itu
Ya luka mendunia
Semesta sedang mencari
Mencari titik seimbangnya
Mungkin...

Puisiku Basah



hujan pada kelender mei
puisiku jatuh dan basah
irama dan bunyinya tak lg terdengar
hanya derai airmata langit
berserak di halaman
lembar -lembar kata yang kueja
menjadi murka
seketika menjadi coretan
hampa tanpa makna
akankah kautahu
betapa kata-kata itu jelmaan semesta
lalu hujan membuatnya menjadi sunyi?
akh mestikah engkau mengadilinya
dengan rintik- rintik menjadi hakimnya
dan aku terdakwa
yang tak menjaga halaman puisi
entahlah
  







Tangisan Senja

terukir senjamu dengan tangisan
anak-anak tak lagi bermain
lorong-lorong kami sepi

seolah tak bertuan
airmata sudah banyak mengering
tragedi dunia merenggut ribuan anak bumi

wahai sang empunya semesta
bantu kami agar wabah ini cepat berlalu
biar kami kembali berangan tentang damai
tentang cerita kami yang terputus kemarin

tentang harapan kami yang luluh karena curiga
tentang esok hari
   yang mungkin masih mungkin 

Catatan Daun



ada catatan ini terselip
 di antara daun-daun basah
 tadi pagi
 jatuh ke tanah 
ke tempat di mana kauberpijak 

entah kaumarah 
sebab tanah kaulangkahi basah

 namun,
 bukankah itu sebuah tanda
 bahwa air masih memberimu kesegaran
 lantas di sini masih kerontang 


seteguk embun pada  rumput liar 
melayu ketika embun pergi

Menunggumu di Senja

memandang
nun jauh di sana
 pada hamparan
yang  diam
menyepi di antara alir waktu


aku hanya berharap
saat senja yang kurasa
engkau adalah kisah
yang penuhi waktu
tentang juang bersama


kelak di sini
senyap itu adalah hati
mengalirkan damai
dan kuboleh memeluk senja
pada hangatnya aku menemukan kisahmu



TERHEMPAS DI SENJA





pada karang kausembunyikan lembutmu 

pada awan kautampakkan garangmu


 entah..... 
terbangun aku dari tidurku 
saat taman mimpiku kehabisan bunga-bunganya
 kepada awan dan karang kaubawa berlari 
hingga kumerengkuh waktu 

menunggu kapan kaukembali 
dengan kelopak-kelopaknya merekah
 di ujung fajar

saat senja 

aku menemukan rindumu

Jembatan Bambu

bangkitlah


bawa juangmu ke seberang
sebab di sini mungkin engkau hanya berangan
pada mimpi-mimpi yang tak jua datang


pergilahangkat pundakmu
bawa harapmu
pada juang yang mungkin keras
lewati titian itu

gapai esokmu yang cemerlang
kelak kaubangun kembali jembatan itu


setibanya engkau pulang
dengan baja yang kaudapat


ingat
pulang dan bangun kembali
agar generasimu tak lagi ditopang bambu tua
ketika menyeberang


dan kelak namamu ditulis di sanabahwa kenangmu selamanya ada




akhir mei 2020

UJUNG SENJA

di senja yang sama
hujan bercerita di beranda
pada rintik yang manja
daun pun bersuka

mengeja butir-butir
tuk sekedar mengukir
biar bunga berbulir
untuk hidup yang terus bergulir

aku memandang dari sudut kamar
yang lama aku jadikan tempat bernalar
untuk waktu yang lelah bersabar
pada senja yang kadang membuatku gemetar

ingin kutumpahkan resahku pada bunga liar
biar sekedar untuk mengintipku keluar
 dari nurani yang sudah terbakar
oleh keputusan yang membuat pusing berputar
aku hanya ingin segera berujar
pada bunga liar yang tangkainya mulai pudar
namun, senja semakin membuat mataku bersinar
walau hujan tak lagi mengalirkan angin semilir
di altarmu aku memandang bergilir
antara rasa, hati dan nalar


Kisah sebuah hujan


LUKA

 yang kaueja
yang kuingat
kadang jadi luka

Jumat, 29 Mei 2020

Celoteh Angin

aku dengar bisikmu pada celoteh angin
dedaunan jatuh merayap ke tanah

burung memungutnya menjadikannya saran
g di sana ia meletakkan telur-telur untuk dierami
tahukah dikau, bahwa bisikmu telah menjelma
menjadi kehidupan penuh makna


tatkala keterpurukan adalah diari kehidupan
aku melihatmu dalam keabadian cinta

Bahagia Bersama Mereka


Ceritakan Pada Semesta

Bila saja engkau resah, gelisah dan merasa hidup mulai tak berarti, berhentilah sejenak. Ceritakan tentang hatimu, tentang resah dan gelisahmu, tentang harapan yang mungkin mulai pupus, tentang hari yang bergeming redup pada alam dan semesta.


 Berhentilah sejenak dan sapalah alam serta semesta. 

Ceritakan saja dan biarkan semesta mendengar. Mungkin tidak ada solusi, mungkin tidak ada jalan keluar, namun setidaknya sepoi angin, debur ombak yang datang dan pergi menuju pantai, cerutu camar, hijau daun dan nyanyian alam masih menyisakan kepolosan untuk mendengar ceritamu.

 Bukankah mereka adalah harapan yang lugu dan tulus dan mungkin energinya masuk ke pikiranmu untuk sedikit membuatmu tersenyum dan melangkah walau tertatih.


Berbagilah dengan alam bila saja engkau tak punya kawan yang tak lagi engkau percayai, sebab engkau sungguh tak tahu siapa teman dan sungguh-sungguh temanmu. 

Tetaplah berharap akan sesuatu yang baik meski sedikit saja dan imanmu akan membuat harapan itu menjadi kuat oleh Tuhan yang tak membiarkanmu pergi berjalan sunyi dalam sendirimu

Bahagia


France.....


BATAS SENJA

pada batas senja
aku berdiri dengan syair-syair terlepas
bait-baitnya tak lagi menyejuk pandang
melepas raga seolah terhempas nun ke lembah
syair-syair terlepas terpisah dari denyut puisiku
aku mengharap malam yang juga terhalang palang
di tiang awan terawang nafas-nafas mimpi
entahlah.. aku terpisah dari diriku
hingga menjadi asing pada tiadaku
aku menunggumu juga nanti
pada senja yang tak menarik lagi

Mengenang

https://www.facebook.com/blasisp/videos/10216109684203405/

Parasmu

engkau masih bertutur pelan
tentang senja yang akan pergi
melepaskan lembayung dari bibirmu
perlahan melepas kata-kata kemarin
entah engkau masih ingat
balada waktu menghantarmu memandang
keindahan malam tanpa bulan
sebab sinarnya sudah terpancar di parasmu

Pernah ada Cerita


Senjamu

terukir senjamu dengan tangisan
anak-anak tak lagi bermain
lorong-lorong kami sepi
seolah tak bertuan
airmata sudah banyak mengering
tragedi dunia merenggut ribuan anak bumi
wahai sang empunya semesta
bantu kami agar wabah ini cepat berlalu
biar kami kembali berangan tentang damai
tentang cerita kami yang terputus kemarin
tentang harapan kami yang luluh karena korona
tentang esok hari
yang mungkin masih mungkin...

Entahlah

bila kami menengok lagi ke belakang
tanah ini masih sama
lorong ini masih ada
rumah ini masih tak berpagar
dan kami boleh bermain, bercanda dengajn sahabat tanpa taku
kini, cerita itu kami tinggalkan sejenak entah sampai kapan
dunia yang se makin tua, kami akhirnya sudah saling curiga
tak ada lagi canda dan tawa di atas tanah yang kausucikan untuk kami, tak ada lagi ceria anak-anak di lorong sebelum lemabyung sore menepi di barat
rumah kami kini berpagar dibalut rasa takut akan dikunjungi
entahlah, engkau sang empunya tanah, langit, air dan api,
berapa lama lagi kami harus mencekam dalam diam karena bencana dunia kini, bantu kami kembali tegakkan kaki di atas tanah ini, di lorong ini kami harus melihat kembali anak-anak bernyanyi dan bermain, bantu kami biar kami hidup nyaman lagi, wahai engkau yang empunya hidup

Nyanyi Senja

nyanyi senja
pada dawai angin
berkidung sunyi
mencatat sejarah
tentang takut makhluk bumi
saban waktu gelisah
ingin rasa kembali
membuka lembar kusam
yang dulu pernah ada
mengisi senja kita
tak sendiri
meski malam bermuram hujan
aku tak hampa
karena ruang rindu kita penuh

Separuh



pada separuh sinar bulan
kueja hening malam
menunggu purnama tiba
hingga aku pergi
hilang
menjemput tiada

Mimpi Kita

menepilah
senja itu di penghujung mata
sebantar juga kan pergi
hanya singgah saja
lagipula mata kita akan tutup jua
menyatu dengan mata langit
menerbang kita
ke mimpi
menepilah

tiada

  ketika semua pergi, bergegas meninggalkan,  segudang cemooh dan sumpah serapah terucap, bercerita ketika engkau tak ada, berpura-pura saha...