hujan pada
kelender mei
puisiku jatuh
dan basah
irama dan
bunyinya tak lg terdengar
hanya derai
airmata langit
berserak di
halaman
lembar -lembar
kata yang kueja
menjadi murka
seketika
menjadi coretan
hampa tanpa
makna
akankah kautahu
betapa
kata-kata itu jelmaan semesta
lalu hujan
membuatnya menjadi sunyi?
akh mestikah
engkau mengadilinya
dengan rintik-
rintik menjadi hakimnya
dan aku
terdakwa
yang tak
menjaga halaman puisi
entahlah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar