Kamis, 05 Februari 2015

Pada Keping Kisah

untuk sekian kalinya kau berkata
ketika lampu-lampu kota belum menyala
saat deru mobil dan celoteh senja memadat jalan
di hias debu memajang memekak suasana
hingga kita tersungkur sebelum malam turun
tanpa pandang  terus berkilah
 rasa yang tak pernah terungkap tak jua paham

akankah sebuah tanya akan selalu menjadi seru
saat kicau tak lagi memudar makna
hingga relung telusuk meminjam tempat
tak ada lagi pelipur kala semua pergi menjadi
awang-awang berbaur debu-debu kota
pada telusur ramai yang memadat kalbu
sungguh kita terjebak macet
seolah jantung tak mampu memompa darah
kita tersungkur di panas  di diam kata-kata

selalu menjadi tanya di awal mentari
tak pantaskah kita berjalan bersama
atau hari akan meninggalkan kisah
tentang tanya yang tak jua terjawab
tertelan debu-debu dalam raung musik tak berirama
terus kita mencari makna
lalu kau dan aku tetap bertanya
tak perlu kita pejamkan rasa
sebab kautahu kita adalah sama
mencari jawab di atas kata-kata tanya
mencari rindu di keping-keping cerita
jangan kaupergi sebelum tanyaku menemui ajal
hingga jawabannya adalah abadi


Manila, February 6, 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tiada

  ketika semua pergi, bergegas meninggalkan,  segudang cemooh dan sumpah serapah terucap, bercerita ketika engkau tak ada, berpura-pura saha...